dr. Stellon Salim, MKK
25 March 2026
OSCE Preparation
Buat Kamu mahasiswa kedokteran, pasti sudah nggak asing lagi sama yang namanya kateterisasi urine. Prosedur ini jadi salah satu materi wajib di skill lab dan ujian OSCE karena termasuk tindakan medis dasar yang sangat sering dilakukan di IGD, bangsal klinik, maupun ruang operasi rumah sakit.
Nah, biar kamu nggak salah langkah, gugup, atau melupakan prinsip steril saat praktik, yuk simak panduan lengkap berikut ini: mulai dari definisi, tujuan, alat yang diperlukan, sampai langkah-langkah pemasangannya. Plus, ada rekomendasi alat latihan simulasi yang bisa kamu dapatkan di Medtools.id!
Apa Itu Kateterisasi Urine?
Kateterisasi urine adalah prosedur medis berupa pemasangan selang kateter berbahan lateks atau silikon ke dalam kandung kemih (vesica urinaria) pasien melalui saluran uretra untuk mengeluarkan urine.
Kateter ini bisa bersifat intermiten (dipasang sementara lalu dilepas) atau indwelling (dipasang menetap dalam waktu lama dengan mengembangkan balon pengikat di ujungnya, seperti pada Foley Catheter). Kateterisasi biasa dilakukan pada pasien dengan retensi urine, persiapan sebelum pembedahan, atau untuk memantau pengeluaran cairan (urine output) pada pasien kritis di ruang ICU.
Indikasi Umum Kateterisasi
Pasien mengalami retensi urine akut atau kronis (tidak bisa buang air kecil).
Kebutuhan monitoring output urine secara ketat pada pasien ICU/kritis.
Persiapan pengosongan kandung kemih sebelum tindakan operasi bedah.
Pasien dengan penurunan kesadaran yang tidak bisa melakukan miksi secara mandiri.
Kontraindikasi Relatif
Terdapat kecurigaan trauma uretra (ditandai dengan adanya darah (bloody discharge) di meatus uretra eksternus, hematoma skrotum, atau prostat letak tinggi/melayang pada colok dubur).
Pasien mengalami Infeksi Saluran Kemih (ISK) aktif (harus digunakan dengan pertimbangan ketat).
Pasien memiliki riwayat striktur uretra berat (penyempitan saluran).
Alat dan Bahan Pemasangan Kateter
Sebelum mulai praktik atau lapor ke penguji, pastikan semua alat di meja trolley sudah tersedia lengkap dan dalam kondisi steril:
Kateter Foley (ukuran disesuaikan: biasanya 16-18 Fr untuk dewasa).
Spuit 10β20 mL (untuk memompa balon kateter).
Cairan aquadest steril (untuk mengisi balon, jangan gunakan NaCl karena bisa mengkristal).
Urine bag atau kantong penampung urine.
Sarung tangan steril (untuk operator) dan non-steril (untuk asisten/tahap persiapan).
Kasa steril dan klem penjepit.
Cairan antiseptik (Povidone-Iodine atau Chlorhexidine).
Sapa pasien, perkenalkan diri, jelaskan indikasi prosedur pada pasien, dan minta persetujuan tindakan medis (informed consent).
Cuci tangan 6 langkah WHO dan pakai sarung tangan bersih (non-steril).
Pasang perlak di bawah bokong pasien dan siapkan alat-alat steril di meja yang mudah dijangkau.
Posisikan pasien: supinasi (terlentang) dengan kaki lurus agak terbuka untuk pria, atau posisi litotomi (menekuk lutut dan membuka paha) untuk wanita.
Langkah Pemasangan Kateter Pria
Cuci tangan kembali dan gunakan sarung tangan steril (asisten menggunakan sarung tangan bersih).
Pegang penis dengan tangan non-dominan (tangan ini sekarang dianggap unsterile/on).
Lakukan desinfeksi menggunakan kasa ber-Povidone Iodine dengan klem dari meatus uretra melingkar ke arah luar hingga skrotum (minimal dua kali usapan).
Pasang duk bolong steril di area genitalia.
Semprotkan Xylocaine gel secara penuh ke dalam uretra melalui meatus, lalu tekan ujung penis perlahan selama 1β2 menit agar efek anestesi bekerja.
Masukkan ujung selang kateter Foley yang sudah dilumasi secara perlahan ke dalam uretra hingga ujung bercabang (pangkal kateter) tersisa di luar. Jangan berhenti hanya saat urine keluar untuk memastikan balon tidak mengembang di uretra!
Kembangkan (inflasi) balon kateter menggunakan spuit berisi cairan aquadest sesuai takaran yang tertera di pangkal kateter (biasanya 10-15 cc).
Tarik selang kateter perlahan ke arah luar sampai terasa tahanan (tanda balon sudah mengunci tepat di leher kandung kemih).
Sambungkan pangkal kateter dengan selang urine bag, lalu fiksasi selang menggunakan plester di area paha atas atau abdomen bawah (mengarah ke atas) pasien.
Langkah Pemasangan Kateter Wanita
Setelah memposisikan pasien litotomi dan memakai sarung tangan steril, buka labia mayora dengan jari tangan non-dominan (unsterile).
Bersihkan area orificium uretra dari atas ke bawah (menuju anus) menggunakan kasa antiseptik minimal dua kali usapan ganti kasa.
Pasang duk bolong steril.
Oleskan atau masukkan Xylocaine gel ke dalam uretra (boleh menggunakan setengah tube).
Masukkan selang kateter dengan lembut ke dalam lubang uretra (pastikan tidak salah masuk ke vagina) hingga urine mengalir keluar, lalu dorong lagi sekitar 2-3 cm.
Inflasi balon dengan aquadest, tarik perlahan hingga terasa tahanan yang pas, lalu sambungkan ke urine bag dan lepaskan duk steril. (Fiksasi plester tidak wajib atau bisa diletakkan di paha bagian dalam).
Setelah Prosedur
Bereskan semua alat, buang sampah medis pada tempatnya, dan cuci tangan kembali.
Lakukan dokumentasi rekam medis yang meliputi: waktu pemasangan, ukuran dan jenis kateter, jumlah/warna urine pertama yang keluar, serta respons pasien.
Kesimpulan
Kateterisasi urine adalah keterampilan klinis esensial yang menuntut pemahaman anatomi, penguasaan prinsip sterilitas (aseptic technique), dan sentuhan empati agar pasien tidak merasa kesakitan. Kesalahan dalam tahapan asepsis atau memompa balon sebelum kateter masuk sepenuhnya dapat berakibat fatal seperti infeksi atau ruptur uretra. Oleh karena itu, Bro Sis harus terus menghafal checklist prosedurnya dan melatih gerakan tangan menggunakan manekin hingga benar-benar luwes sebelum ujian OSCE tiba.