OSCE Preparation

Panduan Skill Lab: Pemeriksaan Fisik Cardiac (Part 2) - Perkusi dan Auskultasi

Panduan Skill Lab: Pemeriksaan Fisik Cardiac (Part 2) - Perkusi dan Auskultasi

Melanjutkan tahapan sebelumnya pada Part 1 (JVP, Inspeksi, dan Palpasi), kini kita memasuki dua tahapan pamungkas dalam pemeriksaan fisik sistem kardiovaskular: Perkusi dan Auskultasi.

Bagi mahasiswa kedokteran, perkusi jantung sering kali dianggap menantang karena perbedaan suara resonansinya bisa sangat subtil (halus).

Sementara itu, auskultasi adalah core skill yang membutuhkan jam terbang tinggi untuk membedakan antara bunyi jantung normal, gallop, dan murmur. Menguasai kedua teknik ini akan membuat Anda jauh lebih percaya diri saat menghadapi stase Kardiologi maupun ujian OSCE.

Berikut adalah panduan klinis langkah demi langkah untuk melakukan perkusi dan auskultasi jantung.

 

 

4. Perkusi Jantung

Tujuan utama perkusi jantung adalah untuk mengestimasi ukuran jantung (mendeteksi kardiomegali) serta mengetahui batas-batas anatomisnya di dalam rongga dada.

Suara perkusi normal pada area jantung adalah redup (dull) karena jantung merupakan organ padat yang berisi darah.

 

Menentukan Batas Kanan Jantung

  1. Mulailah dengan mencari batas paru-hepar. Lakukan perkusi dari arah atas ke bawah menyusuri Garis Midklavikula (MCL) Kanan.
  2. Perhatikan perubahan suara dari sonor (paru) menjadi redup (hepar). Normalnya batas ini berada di Sela Iga (ICS) V atau VI kanan.
  3. Naiklah 1 hingga 2 ICS dari batas paru-hepar tersebut (biasanya di ICS IV kanan) untuk menghindari area pekak hati.
  4. Lakukan perkusi dari arah lateral (samping) menuju ke medial (garis tengah/sternum).
  5. Interpretasi: Batas kanan jantung normal terletak pada Linea Parasternalis Dextra (tepi kanan tulang dada) atau sedikit lebih ke medial. Jika suara redup sudah terdengar jauh di sebelah lateral linea parasternalis dextra, curigai adanya pembesaran atrium atau ventrikel kanan.

 

Menentukan Batas Kiri Jantung

  1. Mulailah perkusi dari arah lateral, yaitu dari Linea Aksilaris Anterior (lipatan ketiak depan) sebelah kiri, bergerak ke arah medial menuju sternum.
  2. Perkusi dilakukan menyusuri ICS V dan ICS IV kiri.
  3. Interpretasi: Batas kiri jantung normal terletak berhimpitan dengan letak ictus cordis, yakni di sekitar ICS V, Linea Midklavikula Sinistra (atau 1-2 cm di sebelah medialnya). Bergesernya batas redup ke arah lateral kiri dan inferior menandakan hipertrofi ventrikel kiri (LVH).

 

Menentukan Batas Atas (Pinggang Jantung)

  1. Lakukan perkusi dari atas ke bawah menyusuri Linea Parasternalis Sinistra (tepi kiri tulang dada).
  2. Perhatikan perubahan suara dari sonor ke redup.
  3. Interpretasi: Batas atas jantung normal berada di ICS II atau ICS III Parasternal Kiri. Area ini sering disebut pinggang jantung. Jika area redup melebar di daerah ini, curigai adanya pembesaran atrium kiri atau dilatasi arteri pulmonalis.

 

 

5. Auskultasi Jantung

Ini adalah puncak dari pemeriksaan fisik kardiologi. Gunakan stetoskop dengan dua sisi: bagian diafragma (untuk mendengar suara bernada tinggi seperti S1, S2, dan murmur regurgitasi aorta) serta bagian bell/sungkup (untuk suara bernada rendah seperti S3, S4, dan murmur stenosis mitral).

Tips Klinis OSCE: Selalu raba denyut arteri karotis pasien dengan satu tangan sambil Anda mendengarkan jantung di area apeks. Bunyi jantung yang terdengar bersamaan dengan terabanya denyut karotis adalah Bunyi Jantung 1 (Sistolik).

 

Lokasi Auskultasi (Area Katup)

Suara penutupan katup tidak didengarkan tepat di atas letak anatomis katupnya, melainkan di area ke mana aliran darah tersebut diproyeksikan:

  • Area Aorta: ICS II, Linea Parasternalis Dextra.
  •  Area Pulmonal: ICS II, Linea Parasternalis Sinistra.
  •  Area Trikuspid: ICS IV atau V, Linea Parasternalis Sinistra bagian bawah.
  •  Area Mitral (Apeks): ICS V, Linea Midklavikula Sinistra.

 

Membedakan Bunyi Jantung Normal

  • Bunyi Jantung 1 (BJ 1 / S1): Terdengar sebagai suara "Lup". Terjadi akibat penutupan katup atrioventrikular (Mitral dan Trikuspid) yang menandakan awal mula fase sistolik. S1 terdengar paling keras di Area Mitral (Apeks).
  • Bunyi Jantung 2 (BJ 2 / S2): Terdengar sebagai suara "Dup". Terjadi akibat penutupan katup semilunar (Aorta dan Pulmonal) yang menandakan awal mula fase diastolik. S2 terdengar paling keras di Area Basal (Aorta dan Pulmonal).

 

Bunyi Jantung Tambahan (Gallop)

Jika terdengar suara ekstra menyerupai derap langkah kuda, gunakan bagian bell stetoskop di area apeks:

  • Bunyi Jantung 3 (S3): Terdengar segera setelah S2 (irama: Lup-Dup-Ta atau "Kentucky"). Pada dewasa di atas 40 tahun, S3 patologis dan merupakan tanda klasik kelebihan volume cairan (gagal jantung kongestif).
  • Bunyi Jantung 4 (S4): Terdengar tepat sebelum S1 (irama: Ta-Lup-Dup atau "Tennessee"). Menandakan atrium berkontraksi kuat memompa darah ke dalam ventrikel yang kaku (hipertrofi ventrikel akibat hipertensi kronis).

 

Bising Jantung (Murmur)

Murmur adalah suara hembusan (bising) akibat turbulensi aliran darah. Jika Anda mendengarnya, deskripsikan hal-hal berikut:

  • Fase: Apakah bising terdengar di antara S1 dan S2 (Murmur Sistolik), atau setelah S2 dan sebelum S1 berikutnya (Murmur Diastolik)?
  •  Lokasi Maksimum (Punctum Maximum): Di area katup mana bising terdengar paling keras?
  •  Penjalaran (Radiasi): Murmur stenosis aorta sering menjalar ke leher (karotis), sedangkan murmur regurgitasi mitral sering menjalar ke aksila (ketiak) kiri.
  •  Derajat (Grade): Dinilai dari Skala 1 (sangat redup/sulit didengar) hingga Skala 6 (sangat keras hingga bisa didengar meski stetoskop diangkat sedikit dari dinding dada, serta disertai thrill yang teraba).

Dengan praktik auskultasi yang berulang-ulang, telinga Anda akan semakin peka dalam mengidentifikasi patologi jantung, menjadikan Anda klinisi yang tajam dan analitis.

 

 

Kesimpulan: 

Menguasai teknik perkusi dan auskultasi jantung memang membutuhkan kesabaran dan jam terbang yang tidak sedikit. Telinga dan tanganmu harus dilatih secara konsisten agar peka terhadap perubahan ketukan suara dan ritme yang sangat halus sekalipun.

Jangan mudah menyerah jika pada awalnya kamu kesulitan membedakan antara bunyi jantung normal, gallop, maupun bising murmur. Teruslah berlatih secara rutin di ruang skill lab bersama probandus atau rekan sejawatmu.

Keterampilan klinis yang mumpuni akan menjadi bekal paling berharga saat kamu berhadapan langsung dengan pasien sesungguhnya di bangsal.

Untuk mendukung kebutuhan pembelajaran skill lab, persiapan evaluasi ujian OSCE kardiovaskular, atau pendalaman materi ilmu kedokteran lainnya, kamu bisa langsung menghubungi WhatsApp Medtools Academy di nomor berikut ini: 

Hubungi Whatsapp MEDTOOLS ACADEMY di sini!

 

Penulis: dr. Stellon Salim, MKK

 

 

Daftar Pustaka

•Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. (2019). Pemeriksaan Fisis Jantung. Diakses dari https://kedokteran.med.unhas.ac.id/wp-content/uploads/2019/08/Pemeriksaan-Fisis-Jantung.pdf

• Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. (2017). Anamnesis Kardiovaskular. Diakses dari https://kedokteran.med.unhas.ac.id/wp-content/uploads/2017/09/ANAMNESIS-KARDIOVASKULAR.pdf

• Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). (2019). Buku Pedoman Keterampilan Klinis Pemeriksaan Kardiovaskuler Lanjut. Diakses dari https://skillslab.fk.uns.ac.id/wp-content/uploads/2019/02/smt-4-Pemeriksaan-kardiovaskuler-lanjut-2019.pdf

• Scribd. (n.d.). Pemeriksaan Fisik Jantung. Diakses dari https://www.scribd.com/document/661992782/Pemeriksaan-Fisik-Jantung

Bagikan Artikel:

1 Chat Tentang Artikel Ini!