Melanjutkan tahapan sebelumnya pada Part 1 (JVP, Inspeksi, dan Palpasi), kini kita memasuki dua tahapan pamungkas dalam pemeriksaan fisik sistem kardiovaskular: Perkusi dan Auskultasi.
Bagi mahasiswa kedokteran, perkusi jantung sering kali dianggap menantang karena perbedaan suara resonansinya bisa sangat subtil (halus).
Sementara itu, auskultasi adalah core skill yang membutuhkan jam terbang tinggi untuk membedakan antara bunyi jantung normal, gallop, dan murmur. Menguasai kedua teknik ini akan membuat Anda jauh lebih percaya diri saat menghadapi stase Kardiologi maupun ujian OSCE.
Berikut adalah panduan klinis langkah demi langkah untuk melakukan perkusi dan auskultasi jantung.
Tujuan utama perkusi jantung adalah untuk mengestimasi ukuran jantung (mendeteksi kardiomegali) serta mengetahui batas-batas anatomisnya di dalam rongga dada.
Suara perkusi normal pada area jantung adalah redup (dull) karena jantung merupakan organ padat yang berisi darah.
Ini adalah puncak dari pemeriksaan fisik kardiologi. Gunakan stetoskop dengan dua sisi: bagian diafragma (untuk mendengar suara bernada tinggi seperti S1, S2, dan murmur regurgitasi aorta) serta bagian bell/sungkup (untuk suara bernada rendah seperti S3, S4, dan murmur stenosis mitral).
Tips Klinis OSCE: Selalu raba denyut arteri karotis pasien dengan satu tangan sambil Anda mendengarkan jantung di area apeks. Bunyi jantung yang terdengar bersamaan dengan terabanya denyut karotis adalah Bunyi Jantung 1 (Sistolik).
Suara penutupan katup tidak didengarkan tepat di atas letak anatomis katupnya, melainkan di area ke mana aliran darah tersebut diproyeksikan:
Jika terdengar suara ekstra menyerupai derap langkah kuda, gunakan bagian bell stetoskop di area apeks:
Murmur adalah suara hembusan (bising) akibat turbulensi aliran darah. Jika Anda mendengarnya, deskripsikan hal-hal berikut:
Dengan praktik auskultasi yang berulang-ulang, telinga Anda akan semakin peka dalam mengidentifikasi patologi jantung, menjadikan Anda klinisi yang tajam dan analitis.
Menguasai teknik perkusi dan auskultasi jantung memang membutuhkan kesabaran dan jam terbang yang tidak sedikit. Telinga dan tanganmu harus dilatih secara konsisten agar peka terhadap perubahan ketukan suara dan ritme yang sangat halus sekalipun.
Jangan mudah menyerah jika pada awalnya kamu kesulitan membedakan antara bunyi jantung normal, gallop, maupun bising murmur. Teruslah berlatih secara rutin di ruang skill lab bersama probandus atau rekan sejawatmu.
Keterampilan klinis yang mumpuni akan menjadi bekal paling berharga saat kamu berhadapan langsung dengan pasien sesungguhnya di bangsal.
Untuk mendukung kebutuhan pembelajaran skill lab, persiapan evaluasi ujian OSCE kardiovaskular, atau pendalaman materi ilmu kedokteran lainnya, kamu bisa langsung menghubungi WhatsApp Medtools Academy di nomor berikut ini:
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS ACADEMY di sini!
Penulis: dr. Stellon Salim, MKK
•Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. (2019). Pemeriksaan Fisis Jantung. Diakses dari https://kedokteran.med.unhas.ac.id/wp-content/uploads/2019/08/Pemeriksaan-Fisis-Jantung.pdf
• Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. (2017). Anamnesis Kardiovaskular. Diakses dari https://kedokteran.med.unhas.ac.id/wp-content/uploads/2017/09/ANAMNESIS-KARDIOVASKULAR.pdf
• Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). (2019). Buku Pedoman Keterampilan Klinis Pemeriksaan Kardiovaskuler Lanjut. Diakses dari https://skillslab.fk.uns.ac.id/wp-content/uploads/2019/02/smt-4-Pemeriksaan-kardiovaskuler-lanjut-2019.pdf
• Scribd. (n.d.). Pemeriksaan Fisik Jantung. Diakses dari https://www.scribd.com/document/661992782/Pemeriksaan-Fisik-Jantung