Halo, sejawat calon dokter! Menghadapi ujian Objective Structured Clinical Examination (OSCE) atau skill lab sistem gastrointestinal memang sering kali membuat detak jantung berdebar lebih kencang.
Berbeda dengan pemeriksaan fisik paru atau jantung yang memiliki urutan Inspeksi, Palpasi, Perkusi, dan Auskultasi (IPPA), pemeriksaan abdomen memiliki aturan mainnya sendiri. Pada area perut, urutan pemeriksaannya wajib diubah menjadi Inspeksi, Auskultasi, Perkusi, dan Palpasi (IAPP).
Perubahan urutan ini bukan tanpa alasan klinis, melainkan untuk mencegah manipulasi fisik yang dapat merancu suara bising usus aslinya. Mari kita bedah tuntas persiapan dasar serta tahapan inspeksi dan auskultasi dalam pemeriksaan abdomen bagian pertama ini!

Sebelum memulai manuver klinis apa pun, komunikasi dan kenyamanan pasien adalah prioritas utama seorang dokter yang berempati.
Pastikan kamu selalu melakukan informed consent dengan menjelaskan tujuan tindakan dan meminta izin sebelum menyingkap pakaian pasien dari prosesus xifoideus hingga simfisis pubis.
Sangat disarankan untuk meminta pasien mengosongkan kandung kemihnya terlebih dahulu agar mereka merasa lebih nyaman dan organ panggul lebih teraba nantinya.
Posisikan pasien berbaring telentang (supine) dengan bantal penyangga di bawah kepala dan lutut sedikit ditekuk untuk merelaksasikan otot-otot dinding perut.
Pastikan pencahayaan ruangan memadai, idealnya dari arah tangensial (samping), agar bayangan dan kontur perut terlihat jelas.
Jangan lupa untuk mencuci tangan, menghangatkan telapak tanganmu dengan menggosoknya, serta memastikan chestpiece stetoskop tidak terlalu dingin saat menyentuh kulit pasien.
Tahap pertama adalah melakukan observasi visual pada seluruh permukaan perut secara saksama dari sisi kanan tempat tidur pasien.
Perhatikan bentuk atau kontur abdomen pasien secara umum, apakah terlihat datar, cembung, mencekung seperti perahu (scaphoid), atau tampak membuncit asimetris.
Cari tahu apakah terdapat kelainan pada kulit perut seperti jaringan parut bekas operasi, pelebaran pembuluh darah vena (caput medusae), atau striae (garis regangan kulit).
Evaluasi juga area umbilikus atau pusar pasien, apakah posisinya berada di tengah, menonjol, atau terdapat tanda peradangan dan kebiruan (Tanda Cullen).
Pada pasien yang sangat kurus, kamu mungkin bisa melihat denyut aorta abdominalis di area epigastrium.
Selain itu, perhatikan apakah ada gelombang peristaltik usus yang terlihat secara kasat mata, yang pada kondisi tertentu bisa menjadi tanda adanya obstruksi saluran cerna.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, auskultasi dilakukan di awal karena penekanan palpasi pada perut dapat merangsang pergerakan usus dan memalsukan frekuensi bising usus asli.
Gunakan bagian diafragma dari stetoskopmu untuk mendengarkan suara bising usus (peristaltik) secara perlahan, biasanya dimulai dari kuadran kanan bawah tempat katup ileosekal berada.
Frekuensi bising usus yang normal berkisar antara 5 hingga 34 kali per menit, berupa suara gurgling atau gemuruh bernada tinggi dan rendah yang sporadis.
Selain mengevaluasi gerakan usus, auskultasi pada abdomen juga bertujuan untuk mendeteksi gangguan vaskular. Gunakan bagian bell (sungkup) pada stetoskop untuk mendengarkan ada atau tidaknya bruit atau suara desiran turbulensi aliran darah abnormal.
Suara bruit ini biasanya dievaluasi secara spesifik di atas titik anatomis aorta abdominalis, arteri renalis (kanan dan kiri), arteri iliaka, serta arteri femoralis.
Menguasai tahapan inspeksi dan auskultasi adalah fondasi krusial sebelum kamu beranjak ke tahap perkusi dan palpasi yang lebih kompleks.
Pastikan stetoskop yang kamu gunakan memiliki sensitivitas akustik yang mumpuni agar tidak melewatkan kelainan suara usus maupun pembuluh darah.
Untuk mendalami materi pembelajaran skill lab kedokteran, persiapan ujian OSCE, atau berdiskusi seputar ilmu kedokteran lainnya, kamu bisa bergabung dan menghubungi WhatsApp Medtools Academy.
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS ACADMY di sini!
Jangan lupa pelajari anatominya, dan nantikan pembahasan teknik perkusi dan palpasi di artikel Part 2!
Panduan Skill Lab: Pemeriksaan Fisik Abdomen (Part 2) untuk Mahasiswa Kedokteran
Penulis : Dr. Stellon Salim, MKK
• Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta. Buku Ajar Clinical Skill Room (CSR) - Pemeriksaan Abdomen. Jakarta: FK UMJ.
• Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. Modul Skill Lab Blok 9 (Sistem Pencernaan). Semarang: FK Unimus.
• Bickley, L. S., Szilagyi, P. G., & Hoffman, R. M. (2021). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking. LWW.
• Scribd. Panduan Skills Lab Blok 4 Digestive: Pemeriksaan Fisik Abdomen.