Perlengkapan Kedokteran

Mengenal Jenis-Jenis Kateter Urine Berdasarkan Bahan dan Kebutuhan Klinis

Mengenal Jenis-Jenis Kateter Urine Berdasarkan Bahan dan Kebutuhan Klinis

Saat masa preklinik, kita mungkin lebih sering fokus pada teknik pemasangan agar lulus ujian skill lab. Namun, taukah kamu kalau selang kateter memiliki banyak jenis? Memilih jenis kateter yang salah tidak hanya membuat pasien tidak nyaman, tapi juga bisa meningkatkan risiko infeksi atau trauma uretra.

Yuk, kita pelajari klasifikasi kateter urine berdasarkan bahan pembuatan dan kebutuhan penggunaannya!

1. Jenis Kateter Berdasarkan Bahan Pembuatannya

Bahan pembuat kateter menentukan seberapa lama alat tersebut boleh menetap di dalam tubuh pasien:

  • Kateter Plastik (PVC): Terbuat dari bahan plastik yang cenderung kaku. Karena teksturnya, kateter ini biasanya hanya digunakan untuk penggunaan sementara (sekali pakai) karena jika terlalu lama dapat memicu iritasi.
  • Kateter Lateks: Terbuat dari karet lateks. Ini adalah jenis yang paling umum ditemui karena harganya terjangkau. Biasanya digunakan untuk jangka pendek (maksimal 3 minggu). Hati-hati: Selalu tanyakan riwayat alergi lateks pada pasien sebelum memasangnya.
  • Kateter Silikon Murni: Kateter ini jauh lebih lentur dan aman bagi jaringan tubuh. Sangat direkomendasikan untuk pasien yang memerlukan kateterisasi jangka panjang (2–3 bulan) karena risiko infeksi dan iritasinya lebih rendah.
  • Kateter Logam: Biasanya terbuat dari stainless steel. Penggunaannya sangat spesifik, misalnya untuk mengosongkan kandung kemih pascapersalinan atau pada kasus striktur uretra tertentu, dan hanya untuk penggunaan jangka pendek.

 

 

2. Jenis Kateter Berdasarkan Kebutuhan Penggunaan

 

Selain bahan, kateter juga dibedakan berdasarkan cara dan durasi penggunaannya:

A. Kateter Intermiten (Short-term)

Ini adalah kateter sekali pakai. Selang dimasukkan hanya untuk mengeluarkan urine saat itu juga, lalu segera dilepas setelah kandung kemih kosong.

  • Karakteristik: Fleksibel dan praktis.
  • Contoh: Pasien dengan retensi urine akut atau penderita cedera saraf yang tidak bisa mengosongkan kandung kemih secara spontan.

 

B. Kateter Indwelling (Foley Catheter)

Ini adalah jenis kateter menetap yang paling sering kamu temui di RS. Kateter ini memiliki balon di ujungnya yang diisi air steril agar selang tidak lepas.

  • Karakteristik: Terhubung ke urine bag untuk drainase terus-menerus.
  • Contoh: Pasien pasca operasi besar, pasien koma, atau mereka yang tidak dapat bergerak (imobilisasi).

C. Kateter Kondom (External Catheter)

Sesuai namanya, kateter ini tidak dimasukkan ke dalam uretra, melainkan dipasang di bagian luar penis seperti kondom.

  • Karakteristik: Non-invasif sehingga risiko infeksi (ISK) jauh lebih kecil.
  • Contoh: Pria dengan inkontinensia urine (sering mengompol secara tidak sengaja) namun tetap bisa mengosongkan kandung kemih.

 

Kesimpulan

Memahami jenis kateter adalah bagian dari kompetensi klinis yang akan sangat berguna saat kamu menjalani stase koas nanti. Pemilihan bahan kateter (lateks vs silikon) dan metode penggunaan (intermiten vs indwelling) harus selalu disesuaikan dengan diagnosis, durasi pemakaian, serta kondisi alergi pasien. Ketepatan dalam memilih jenis kateter akan sangat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup dan kenyamanan pasienmu.

Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini!

Penulis: Andika Chris Ardiansyah

Peninjau: dr. Stellon Salim

 

Daftar Pustaka:

Siloam Hospitals. (2023). Mengenal Kateter Urine: Fungsi, Jenis, dan Prosedurnya.

Alodokter. (2022). Mengenal Kateter Urine Beserta Jenis dan Kondisi yang Memerlukannya.

Potter, P. A., & Perry, A. G. (2020). Fundamentals of Nursing. Elsevier Health Sciences.

Bagikan Artikel:

1 Chat Tentang Artikel Ini!