Sebagai calon dokter, Kamu pasti sudah sangat familier dengan wujud infus. Tapi, tahukah Kamu bahwa di balik kantong cairan yang digantung itu, terdapat berbagai jenis larutan dengan fungsi dan efek osmotik yang berbeda-beda?
Lebih dari sekadar "memasukkan air ke dalam tubuh", pemberian infus adalah prosedur medis terstruktur. Penguasaan mendalam tentang jenis cairan infus akan menjadi bekal yang tak ternilai dalam menentukan terapi yang tepat, memantau potensi komplikasi, dan memberikan edukasi yang komprehensif kepada pasien.
Yuk, kita pelajari macam-macam cairan infus dasar yang paling sering dijumpai di rumah sakit!
Cairan infus Ringer Laktat (Ringer's lactate solution) adalah larutan elektrolit isotonik yang sangat sering digunakan untuk terapi intravena (IV). Cairan ini mengandung natrium, klorida, kalium, kalsium, dan laktat, yang komposisinya dibuat sangat mirip dengan kadar elektrolit dalam darah dan cairan tubuh manusia.
Dosis pemberian Ringer Laktat sangat bergantung pada usia, berat badan, kondisi medis penyerta, dan tingkat keparahan dehidrasi pasien. Cairan ini diberikan melalui tetesan infus intravena (IV) ke dalam pembuluh vena perifer (biasanya di lengan atau punggung tangan).
Meski aman, efek samping yang mungkin timbul (meski jarang) antara lain:
Perhatian Khusus: Penggunaan RL sebaiknya dihindari pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat (karena hati tidak mampu memetabolisme laktat menjadi bikarbonat) dan pada pasien dengan kondisi hiperkalemia.
Cairan infus NaCl 0,9% (Sodium Chloride 0.9%) adalah larutan steril yang murni hanya mengandung air dan garam (natrium klorida) dengan konsentrasi 0,9%. Cairan ini bersifat isotonik, artinya memiliki tekanan osmotik yang sama persis dengan cairan tubuh normal.
Sama seperti RL, laju tetesan dan volume NaCl 0,9% harus dihitung berdasarkan klinis pasien, berat badan, dan derajat dehidrasi. Cairan ini dialirkan secara intravena.
Efek Samping:
Jika diberikan terlalu cepat atau melebihi kebutuhan tubuh, efek samping yang bisa muncul meliputi:
Perhatian Khusus: Pemberian NaCl 0,9% dalam volume yang sangat masif dapat berisiko memicu kondisi asidosis metabolik hiperkloremik, sehingga keseimbangan asam-basa pasien perlu dipantau.
Berbeda dengan RL dan NaCl, Dextrose 10% adalah larutan steril yang mengandung glukosa dengan konsentrasi 10% (tanpa elektrolit tambahan). Cairan ini bersifat hipertonik di dalam kemasan, yang berarti memiliki tekanan osmotik lebih tinggi daripada cairan darah. Glukosa dalam cairan ini berfungsi sebagai sumber kalori/energi instan bagi tubuh.
Pemberian Dextrose 10% harus dipantau ketat, terutama laju tetesannya, untuk menghindari lonjakan gula darah yang tiba-tiba. Pemberian dilakukan secara intravena sesuai dengan tingkat keparahan hipoglikemia pasien.
Perhatian Khusus: Sangat diwajibkan untuk memantau kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) secara berkala selama pemberian. Selain itu, Dextrose sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan cedera kepala berat karena glukosa bebas dapat memperburuk edema otak.
Memahami perbedaan antara Ringer Laktat, NaCl 0,9%, dan Dextrose 10% adalah keterampilan dasar mutlak bagi setiap calon dokter. Mulai dari menangani syok hipovolemik hingga krisis hipoglikemia, ketepatan memilih cairan infus akan sangat menentukan angka keselamatan pasien.
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini!
Penulis: Andika Chris Ardiansyah
Alodokter. (2022). Natrium Klorida (NaCl). Diakses dari [https://www.alodokter.com/natrium-klorida-nacl](https://www.alodokter.com/natrium-klorida-nacl)
Halodoc. (2021). Kenalan dengan Dextrose: Manfaat, Dosis, dan Efek Sampingnya. Diakses dari [https://www.halodoc.com/artikel/kenalan-dengan-dextrose-manfaat-dosis-dan-efek-sampingnya](https://www.halodoc.com/artikel/kenalan-dengan-dextrose-manfaat-dosis-dan-efek-sampingnya)
Hello Sehat. (2021). Ringer Laktat: Fungsi, Dosis, dan Efek Samping. Diakses dari [https://hellosehat.com/obat-suplemen/ringer-laktat/](https://hellosehat.com/obat-suplemen/ringer-laktat/)