Dalam dunia medis, tensimeter atau sphygmomanometer merupakan alat vital untuk mengukur tekanan darah. Alat ini tidak hanya digunakan oleh dokter dan perawat di rumah sakit, tetapi juga menjadi "senjata" utama mahasiswa kedokteran saat skill lab maupun baksos.
Saat ini, terdapat berbagai jenis tensimeter dengan mekanisme yang berbeda. Yuk, kita bedah kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenisnya!
Kelebihan:
Kekurangan:
Bagi kamu mahasiswa kedokteran, tensimeter aneroid adalah pilihan yang paling direkomendasikan untuk keperluan belajar. Mengapa? Karena saat ujian OSCE atau praktik klinik, kamu dituntut untuk mampu melakukan pemeriksaan manual secara akurat menggunakan stetoskop. Menguasai tensimeter manual akan membentuk insting klinis yang lebih tajam dibandingkan hanya mengandalkan mesin digital.
Pilihlah merek yang terpercaya untuk memastikan akurasi pegasnya.
Pastikan manset (cuff) sesuai dengan ukuran lengan (tersedia ukuran pediatrik hingga dewasa besar).
Simpanlah di tempat yang kering dan hindari guncangan berlebih agar alat tidak cepat off-calibrated.
Setiap jenis tensimeter memiliki peranannya masing-masing. Namun, sebagai calon dokter, kemampuan melakukan pemeriksaan manual dengan tensimeter aneroid adalah kompetensi dasar yang tidak bisa ditawar. Dengan alat yang tepat dan latihan yang konsisten, kamu akan lebih mahir dalam melakukan screening kesehatan pasien.
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini!
Penulis: Tim Medtools.id
Pickering, T. G., et al. (2005). Recommendations for Blood Pressure Measurement in Humans and Experimental Animals. American Heart Association.
World Health Organization (WHO). (2011). Replacement of Mercury Thermometers and Sphygmomanometers in Health Care.
Bickley, L. S. (2017). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking. Lippincott Williams & Wilkins.