Tata Cara Pemasangan Kateter Urine yang Benar dan Aseptik
Andika Chris Ardiansyah
16 March 2026
OSCE Preparation
Sebagai mahasiswa kedokteran, pemasangan kateter urine adalah salah satu keterampilan klinis (clinical skill) dasar yang wajib kamu kuasai. Biasanya, materi ini akan dipelajari pada semester 5 sebagai bagian dari sistem urogenital.
Kateter urine adalah selang fleksibel yang dimasukkan ke dalam kandung kemih untuk membantu mengeluarkan urine pada pasien yang mengalami gangguan eliminasi, seperti retensi urine. Karena prosedur ini memasukkan benda asing ke dalam tubuh, pemahaman akan teknik aseptik sangatlah krusial untuk mencegah infeksi saluran kemih (ISK).
Alat dan Bahan yang Perlu Kamu Siapkan
Untuk latihan skill lab yang efektif, pastikan kamu menyiapkan daftar alat berikut:
Set Steril (dalam bak instrumen): Kateter Foley (ukuran sesuai kebutuhan), pinset anatomis, duk bolong steril, dan kassa/kapas steril.
Sarung Tangan (Handscoon): Minimal 2 pasang sarung tangan steril.
Cairan Antiseptik: Kapas savlon atau povidone-iodine.
Lubrikan: Jelly berbahan dasar air atau Lidocaine gel 2%.
Spuit 10-20 cc & Aqua Steril/NaCl: Untuk mengembangkan balon pengunci kateter.
Urine Bag: Sebagai wadah penampung urine.
Plester & Gunting: Untuk fiksasi selang ke paha pasien.
Perlak & Pengalas.
Manekin Kateter: Media simulasi utama.
(Catatan: Kamu bisa mendapatkan paket lengkap alat latihan kateter ini di @Medtools.Store)
Berikut adalah langkah-langkah sistematis yang perlu kamu kuasai saat latihan:
Persiapan: Jelaskan prosedur kepada pasien (simulasi), cuci tangan, dan atur posisi manekin secara supine dengan kaki dilebarkan.
Aseptik Awal: Pasang sarung tangan steril pertama. Lakukan desinfeksi pada glans penis dan area meatus uretra secara sirkuler menggunakan kassa antiseptik.
Persiapan Area: Ganti sarung tangan steril yang baru. Letakkan duk bolong steril di sekitar area genital untuk menjaga kesterilan.
Lubrikasi: Olesi ujung kateter dengan jelly pelumas (sekitar 10-15 cm). Pada pria, jelly juga bisa dimasukkan langsung ke meatus uretra menggunakan spuit tanpa jarum untuk mengurangi gesekan.
Insersi: Pegang penis secara tegak lurus dengan tangan kiri (non-dominan). Masukkan kateter secara perlahan menggunakan pinset atau tangan kanan (dominan) sejauh 15-25 cm hingga urine terlihat mengalir keluar ke dalam urine bag.
Optimalisasi: Jika urine sudah keluar, masukkan lagi kateter sekitar 2,5 cm untuk memastikan balon berada di dalam kandung kemih, bukan di uretra.
Fiksasi Balon: Suntikkan air steril/NaCl melalui side port kateter (sesuai volume yang tertera di pangkal kateter, biasanya 5-10 cc) untuk mengembangkan balon pengunci. Tarik perlahan kateter hingga terasa ada tahanan.
Finalisasi: Lepaskan duk bolong, lakukan fiksasi selang kateter pada paha pasien menggunakan plester agar tidak tertarik. Rapikan alat dan cuci tangan.
Kesimpulan
Pemasangan kateter bukan sekadar memasukkan selang, melainkan seni menjaga kesterilan di tengah prosedur yang invasif. Kesalahan dalam teknik aseptik dapat menyebabkan trauma uretra dan infeksi serius pada pasien. Oleh karena itu, latihan rutin menggunakan manekin sangat diperlukan agar tanganmu terbiasa bekerja secara sistematis dan steril.