Panduan Skill Lab Sirkumsisi Untuk Mahasiswa Kedokteran
dr. Stellon Salim, MKK
25 March 2026
OSCE Preparation
Buat kamu mahasiswa kedokteran yang akan menjalani skill lab sirkumsisi, pastinya kamu tahu bahwa keterampilan ini bukan sekadar teori, tapi juga soal praktik tangan yang detail dan presisi. Sirkumsisi (sunat) adalah prosedur bedah minor yang sangat sering dilakukan di dunia klinis, terutama pada anak laki-laki. Maka dari itu, penguasaan teknik ini menjadi kompetensi wajib untuk kamu yang sedang menempuh pendidikan dokter.
Artikel ini dirancang khusus untuk membantumu memahami tahapan skill lab sirkumsisi berdasarkan panduan resmi, sekaligus memberikan rekomendasi alat-alat bedah minor yang wajib kamu siapkan sebelum praktik di kampus. Yuk, simak panduannya sampai selesai!
Persiapan Diri dan Pasien
Sebelum memulai prosedur, kamu harus memperhatikan aspek penampilan dan etika profesional medis:
Gunakan jas lab (snelli) yang bersih dan rapi.
Pastikan rambut terikat rapi (jika panjang).
Kuku wajib dipotong pendek, bersih, dan tanpa cat kuku (kuteks).
Gunakan sepatu tertutup untuk standar keselamatan kerja.
Langkah awal interaksi dengan pasien juga harus dilakukan dengan sopan. Mulai dengan menyapa pasien, memperkenalkan diri sebagai dokter muda, lalu menjelaskan prosedur sirkumsisi yang akan dilakukan secara bahasa awam. Jangan lupa untuk meminta informed consent (persetujuan tindakan medis). Setelah itu, cuci tangan dengan teknik 6 langkah WHO selama 20β30 detik dan gunakan sarung tangan.
Lakukan anamnesis singkat untuk memastikan pasien tidak memiliki riwayat gangguan perdarahan (seperti hemofilia), alergi terhadap obat anestesi lokal, atau kelainan bawaan genital seperti hipospadia (yang merupakan kontraindikasi sirkumsisi di FKTP). Setelah semua aman, bantu pasien untuk berbaring terlentang dan buka pakaian bagian bawah.
Daftar Alat Skill Lab Sirkumsisi (Minor Set)
Berikut adalah daftar alat dan bahan medis (Sirkumsisi Set) yang wajib disiapkan di meja trolley sebelum tindakan dimulai:
Klem arteri bengkok (2 buah).
Klem lurus (1 buah).
Pinset sirurgis dan anatomis (masing-masing 1 buah).
Pisau bedah (scalpel) dan gagangnya (handle).
Gunting jaringan dan gunting perban (verband scissors).
Pemegang jarum (needle holder) (1 buah).
Benang Plain Catgut ukuran 3-0 atau 4-0 beserta jarum bedah.
Spuit 3 cc dan larutan anestesi Lidokain 2% (tanpa epinefrin).
Sarung tangan (handscoon) steril.
Kain berlubang (duk bolong) steril.
Kasa steril secukupnya.
Cairan Povidone Iodine 10% dan Alkohol 70%.
Cairan irigasi NaCl 0.9%.
Sufratulle (kasa jaring antibiotik) dan plester bedah.
Tahapan Prosedur Skill Lab Sirkumsisi
Berikut adalah urutan langkah bedah sirkumsisi standar yang wajib kamu hafalkan untuk OSCE:
Asepsis dan Antisepsis: Gunakan sarung tangan steril. Sterilkan area genital pasien menggunakan kasa yang dibasahi Povidone Iodine. Usap area penis dari bagian tengah (orifisium) melingkar ke arah luar hingga pangkal paha. Pasang duk bolong steril di atas area genitalia untuk membatasi area operasi (sterile field).
Anestesi Lokal (Blok Saraf): Siapkan spuit berisi Lidokain 2%. Lakukan blokade saraf Nervus dorsalis penis dengan menyuntikkan anestesi di pangkal penis pada posisi jam 2 dan jam 10. Lanjutkan infiltrasi di bagian frenulum (ventral) pada posisi jam 6. Tunggu 3β5 menit, lalu lakukan tes nyeri dengan mencubit lembut ujung preputium (kulit kulup) menggunakan pinset untuk memastikan obat bius sudah bekerja maksimal.
Pemotongan Kulit Preputium (Dorsumsisi): Buka perlengketan kulup (jika ada) menggunakan klem. Lakukan pemotongan lurus (dorsumsisi) di posisi jam 12 menggunakan gunting jaringan, dengan klem lurus sebagai pelindung agar kepala penis (glans) tidak terpotong. Setelah itu, potong kulit preputium secara melingkar dari arah dorsal (jam 12) ke ventral (jam 6) di kedua sisi hingga tersisa sedikit mukosa (sekitar 0,5 cm dari korona glandis).
Perawatan Frenulum dan Penjahitan Luka: Jepit area perdarahan dengan klem arteri, terutama di area frenulum (jam 6) dan ikat dengan benang untuk menghentikan perdarahan aktif (hemostasis). Mulailah menjahit mukosa dan kulit luar (aproksimasi) menggunakan benang Plain Catgut 3-0/4-0. Titik jahitan utama biasanya diletakkan pada posisi jam 12, jam 3, jam 6 (jahitan angka 8 atau figure of eight), dan jam 9 agar hasilnya simetris.
Pembalutan dan Edukasi Pasca-Prosedur: Bersihkan sisa darah dengan NaCl 0.9%. Balut luka jahitan melingkar menggunakan Sufratulle, lalu tutup dengan kasa steril dan plester secara rapi. Edukasi pasien/orang tua untuk meminum obat analgesik dan antibiotik yang diresepkan, menjaga luka tetap kering, dan segera kembali jika terjadi perdarahan masif atau bengkak bernanah.
Tips Praktik untuk Mahasiswa
Selalu latih cara memegang instrumen bedah (needle holder dan pinset) di manekin atau pad latihan hingga tanganmu tidak kaku.
Jaga ketat prinsip sterilitas! Jangan pernah menyentuh alat steril atau duk bolong dengan bagian tubuh yang belum steril (on).
Lakukan pengecekan kelengkapan minor set sebelum melapor ke penguji bahwa kamu siap memulai tindakan.
Jangan ragu bertanya ke dokter instruktur pembimbing jika kamu kesulitan melakukan teknik simpul jahitan (knot tying) saat skill lab.
Kesimpulan
Prosedur sirkumsisi membutuhkan gabungan antara ketelitian pemotongan anatomi, keandalan teknik hemostasis, dan kemampuan menjahit luka yang estetis. Dengan menghafal urutan prosedur secara sistematis serta terus melatih muscle memory menggunakan manekin, Bro Sis pasti bisa melewati stase bedah minor dan ujian OSCE dengan nilai yang memuaskan dan percaya diri saat menghadapi pasien asli.