Halo, sejawat calon dokter! Selamat datang kembali di lanjutan panduan skill lab sistem respirasi bagian kedua. Setelah sebelumnya kita membahas tahap persiapan, inspeksi dada, dan palpasi fremitus, kini saatnya kita masuk ke manuver yang membutuhkan ketajaman pendengaran.
Tahapan perkusi dan auskultasi ini sangat esensial untuk membedakan apakah keluhan sesak napas pasien berasal dari penyempitan jalan napas, penumpukan cairan, atau pemadatan jaringan paru. Mari kita bahas teknik yang tepat agar kamu bisa menentukan letak kelainan klinis dengan akurat saat ujian OSCE nanti!
Perkusi pada dinding dada bertujuan untuk menilai komposisi jaringan yang ada di bawahnya, apakah area tersebut berisi udara, cairan, atau massa padat. Lakukan ketukan dari puncak paru (supraklavikula) bergerak ke basal secara sistematis pada sela iga, dan selalu bandingkan suara antara sisi kanan dan kiri secara zig-zag.
Secara normal, suara ketukan pada lapangan paru orang sehat adalah sonor. Namun, jika kamu mendengarkan suara hipersonor yang menggaung seperti ketukan tong kosong, hal itu bisa menandakan adanya perangkap udara berlebih seperti pada kasus pneumotoraks atau emfisema.
Sebaliknya, jika suara yang dihasilkan terdengar redup atau pekak (dullness), itu mengindikasikan adanya cairan pleura atau pemadatan jaringan paru akibat proses infeksi pneumonia. Selain membandingkan bunyi paru kiri dan kanan, kamu juga wajib menentukan batas organ normal saat ujian skill lab.
Lakukan perkusi dari area dada kanan atas ke bawah untuk mencari perubahan suara sonor ke redup sebagai batas paru-hepar, serta cari batas paru-jantung di area dada kiri.
Jangan lupa juga untuk mengevaluasi peranjakan diafragma dari sisi belakang atau punggung pasien. Minta pasien untuk menarik napas dalam dan menahannya, lalu perkusilah dari area sonor ke redup untuk menandai batas letak paru bawah saat inspirasi maksimal.
Peranjakan diafragma yang normal biasanya berkisar antara 3 hingga 5 sentimeter. Penurunan atau hilangnya jarak peranjakan diafragma dapat menjadi petunjuk klinis adanya efusi pleura yang masif atau kondisi hiperinflasi paru yang berat.
Tahap terakhir yang paling krusial adalah auskultasi, yang dilakukan menggunakan stetoskop bagian diafragma. Mintalah pasien untuk bernapas sedikit lebih dalam dari biasanya melalui mulut dengan ritme yang tenang. Dengarkan suara napas di seluruh lapangan paru dari apeks hingga basal, dengan menggunakan pola zig-zag yang persis sama seperti saat melakukan perkusi.
Suara napas dasar yang normal di sebagian besar area perifer paru adalah vesikuler, dengan karakteristik suara tarikan napas (inspirasi) yang lebih panjang dan keras daripada hembusan napas (ekspirasi).
Di area saluran napas besar seperti trakea atau bronkus utama, kamu secara normal akan mendengar suara bronkial yang ekspirasinya jauh lebih dominan. Kelainan terjadi jika kamu mendengar suara napas bronkial atau bronkovesikuler di area perifer paru, yang umumnya menjadi tanda adanya konsolidasi paru (misalnya pada pneumonia lobaris).
Selain mengevaluasi letak suara napas dasar, perhatikan dengan saksama ada atau tidaknya kemunculan suara napas tambahan (adventitious sounds) yang sangat spesifik untuk mendiagnosis suatu penyakit.
Suara napas tambahan yang paling sering diujikan di skenario OSCE meliputi wheezing, rhonki, dan krekels (crackles / rales). Wheezing adalah suara mengi bernada tinggi yang sangat khas pada penyempitan saluran napas bawah, seperti serangan asma.
Rhonki adalah suara bernada rendah mendengkur akibat adanya sekret atau lendir kental di saluran bronkus, sementara krekels terdengar seperti bunyi gemerisik gesekan rambut akibat terbukanya alveoli yang berisi cairan pada kasus edema paru atau infeksi.

Menguasai teknik perkusi dan auskultasi paru menuntut kepekaan pendengaran, pemahaman anatomi yang solid, dan latihan praktik yang konsisten. Membaca teori saja tidak akan cukup tanpa membiasakan telinga mendengar variasi suara napas secara langsung.
Untuk mendalami materi pembelajaran skill lab kedokteran, persiapan ujian OSCE, atau berdiskusi seputar ilmu klinis secara komprehensif, kamu bisa bergabung dan menghubungi WhatsApp Medtools Academy di nomor berikut ini:
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS ACADEMY di sini!
Penulis: dr. Stellon Salim, MKK
"Terus asah ketajaman telinga klinismu, Dok!"
• Studocu. Pemeriksaan Fisik Paru. Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.
• Repository UKI. Modul Instruktur Skills Lab Blok 7: Sistem Respirasi. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.
• YouTube. Referensi Visual Tutorial Pemeriksaan Fisik Paru (Inspeksi, Palpasi, Perkusi, Auskultasi).
• Bickley, L. S., Szilagyi, P. G., & Hoffman, R. M. (2021). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking, 13th Edition. Wolters Kluwer.