Panduan OSCE: Romberg Test β Menguji Keseimbangan dan Sistem Saraf
dr. Stellon Salim, MKK
26 March 2026
OSCE Preparation
Selamat datang kembali di Medtools.id, sumber informasi terpercaya tempat Medi berbagi panduan esensial untuk Bro Sis para calon dokter. Kali ini, kita akan membahas salah satu pemeriksaan neurologis fundamental yang sangat sering muncul dalam stase ujian OSCE (Objective Structured Clinical Examination) dan krusial dalam evaluasi klinis pasien sehari-hari, yaitu Romberg Test. Tes klasik ini digunakan untuk mengevaluasi keseimbangan pasien dan sistem propiosepsi, yakni kemampuan tubuh dalam merasakan posisinya di ruang secara sadar tanpa bantuan penglihatan. Yuk, kita selami teknik dan interpretasinya lebih dalam!
Apa Itu Romberg Test dan Mengapa Penting?
Romberg Test adalah metode pemeriksaan fisik yang sederhana namun sangat efektif untuk menilai fungsi traktus/kolom posterior pada sumsum tulang belakang (medulla spinalis), yang bertanggung jawab penuh atas sensasi posisi sendi (propiosepsi). Tes ini secara spesifik menguji kemampuan seseorang untuk menjaga keseimbangan postur tubuh tanpa mengandalkan input kompensasi visual. Dalam keadaan normal, keseimbangan dipertahankan oleh tiga sistem utama: penglihatan (visual), keseimbangan di telinga dalam (vestibular), dan propiosepsi. Jika seseorang memiliki masalah atau lesi pada sistem propiosepsi, mereka akan langsung kesulitan dan kehilangan keseimbangan ketika mata mereka ditutup, karena mereka kehilangan input visual yang selama ini menjadi kompensator kelemahan tersebut.
Dua Tipe Romberg Test yang Wajib Bro Sis Kuasai
Dalam praktik klinis dan ujian OSCE, terdapat dua jenis manuver Romberg Test yang lazim dilakukan dan wajib Bro Sis pahami prosedurnya.
Manuver pertama adalah Romberg Test Standar. Untuk melakukan prosedur ini, mulailah dengan meminta pasien untuk berdiri tegak tanpa alas kaki dengan kedua kaki rapat, di mana tumit dan jempol kaki kanan-kiri saling bersentuhan. Posisikan kedua tangan pasien santai di samping tubuh atau disilangkan di depan dada. Instruksikan pasien untuk melihat lurus ke depan dengan mata terbuka, lalu amati postur pasien selama 30 detik. Perhatikan apakah ada goyangan hebat atau ketidakstabilan. Setelah 30 detik berlalu dan pasien tampak stabil, instruksikan pasien untuk menutup kedua matanya. Amati kembali postur pasien selama 30 detik berikutnya sambil tetap bersiaga di dekat pasien. Dari segi interpretasi, hasil dikatakan Romberg Negatif (Normal) jika pasien mampu menjaga keseimbangan dengan baik atau hanya bergoyang sangat halus, baik saat mata terbuka maupun tertutup; ini menunjukkan tidak ada masalah defisit propiosepsi. Sebaliknya, hasil dikatakan Romberg Positif (Abnormal) jika pasien awalnya stabil saat mata terbuka, namun tiba-benar goyah hebat, kehilangan keseimbangan, atau cenderung jatuh saat matanya tertutup. Ini menunjukkan adanya gangguan pada traktus propiosepsi, seperti pada kasus neuropati perifer, defisiensi vitamin B12, atau tabes dorsalis. Sebagai catatan tambahan, jika pasien sudah terlihat tidak stabil atau jatuh sejak matanya masih terbuka, kemungkinan besar masalahnya terletak pada lesi serebelum (otak kecil), bukan traktus propiosepsi.
Manuver kedua adalah Sharpened Romberg Test atau sering juga disebut Tandem Romberg Test. Tes ini pada dasarnya lebih menantang dari versi standar dan khusus digunakan untuk mendeteksi defisit keseimbangan yang lebih ringan atau samar. Prosedurnya sangat mirip dengan Romberg standar, namun posisi tumpuan kaki pasien diubah menjadi lebih sempit. Minta pasien untuk berdiri dengan satu kaki diposisikan persis di depan kaki lainnya, sehingga tumit kaki yang di depan menyentuh tepat di ujung jari kaki yang di belakang, seolah-olah sedang berdiri di atas seutas tali (tandem stance). Minta pasien mempertahankan posisi ini dengan mata terbuka selama 30 detik, lalu dilanjutkan dengan mata tertutup selama 30 detik. Interpretasinya pun sejalan; Sharpened Romberg Negatif (Normal) berarti pasien tetap stabil tanpa input visual, sedangkan Sharpened Romberg Positif (Abnormal) ditandai dengan ketidakmampuan pasien mempertahankan posisi tersebut saat mata dipejamkan.
Pentingnya Keamanan Pasien (Patient Safety)
Hal terpenting yang sering menjadi poin penilaian utama para penguji OSCE di stase ini adalah patient safety. Sepanjang kedua manuver tes ini berlangsung, sangat wajib bagi Bro Sis sebagai pemeriksa untuk selalu berdiri merapat di dekat pasien, biasanya dengan merentangkan kedua lengan di sisi kanan-kiri atau depan-belakang pasien tanpa menyentuhnya. Siapkan kuda-kuda dan refleks diri untuk segera memberikan dukungan, menangkap, atau menahan bahu pasien jika mereka tiba-tiba goyah, kehilangan keseimbangan, atau berisiko jatuh membentur lantai. Keamanan pasien adalah prioritas mutlak yang tidak boleh dilupakan!
Kesimpulan
Romberg Test adalah salah satu instrumen pemeriksaan saraf fundamental yang wajib Bro Sis kuasai di luar kepala. Pemahaman yang akurat mengenai prosedur yang aman, serta kemampuan membedakan interpretasi antara hasil Romberg Positif (abnormal) dan Romberg Negatif (normal), akan sangat membantu Bro Sis dalam melokalisasi lesi dan mendiagnosis berbagai kondisi neurologis. Tes ini sangat brilian karena relatif mudah dilakukan dalam waktu singkat dan sama sekali tidak memerlukan alat khusus, menjadikannya sangat praktis untuk diaplikasikan dalam setting klinis maupun gawat darurat.
Bickley, L. S., Szilagyi, P. G., & Hoffman, R. M. (2021). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.
Ropper, A. H., Samuels, M. A., Klein, J. P., & Prasad, S. (2019). Adams and Victor's Principles of Neurology (11th ed.). McGraw-Hill Education.
Campbell, W. W., & Barohn, R. J. (2020). DeJong's The Neurologic Examination (8th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
Tonton Visualisasinya dan Lengkapi Alat Diagnostikmu!
Yuk, asah terus kemampuan klinis Bro Sis dalam melakukan pemeriksaan fisik! Membaca teori akan jauh lebih sempurna jika dibarengi dengan melihat demonstrasi aslinya. Untuk panduan visual yang detail mengenai stance, penempatan tangan pemeriksa untuk patient safety, dan langkah-langkah praktis langsung, Bro Sis bisa langsung menonton video lengkapnya di kanal YouTube kami: