Tips n Trick Maba FK

7 Tips Public Speaking dan Komunikasi Medis untuk Mahasiswa FK

7 Tips Public Speaking dan Komunikasi Medis untuk Mahasiswa FK

"Seorang dokter harus bisa berkomunikasi, harus bisa menyampaikan informasi tentang penyakit, dan yang terpenting, harus bisa memberikan empati." Pernahkah Kamu mendengar kutipan inspiratif dari serial televisi drama medis populer The Good Doctor tersebut?

Kutipan itu seratus persen benar! Di Fakultas Kedokteran, Kamu memang dituntut untuk menghafal ribuan istilah anatomi dan dosis farmakologi. Namun, ketika Kamu sudah mengenakan jas putih dan berhadapan langsung dengan pasien di dunia nyata, pengetahuan medis saja tidak akan cukup. Untuk menyampaikan diagnosis, menenangkan keluarga pasien, hingga melakukan presentasi kasus (morning report) di depan dokter konsulen, Kamu mutlak membutuhkan soft skill yang bernama public speaking.

Kemampuan berbicara di depan umum dan komunikasi interpersonal adalah kunci utama untuk membangun citra profesional seorang dokter. Pasien akan jauh lebih patuh pada terapi pengobatan jika mereka merasa nyaman dan percaya pada penjelasan dokternya. Lalu, bagaimana caranya agar kemampuan public speaking Kamu tidak kaku dan terdengar meyakinkan? Yuk, terapkan 7 tips rahasia dari Medi berikut ini!

1. Kuasai Materi dan Kenali Audiens (Basic of the Person)

Langkah pertama sebelum membuka mulut adalah memastikan Kamu benar-benar paham dengan topik yang akan dibicarakan. Jika Kamu akan mengedukasi pasien tentang penyakit hipertensi, pastikan Kamu sudah menguasai patofisiologi hingga terapinya. Penguasaan materi akan menyingkirkan rasa gugup secara otomatis.

Selain itu, kenalilah latar belakang audiensmu. Bahasa yang Kamu gunakan saat mempresentasikan laporan kasus di depan para dokter spesialis tentu harus penuh dengan terminologi medis. Namun, saat Kamu berbicara dengan pasien di poliklinik atau warga saat Bakti Sosial, turunkan bahasamu menjadi sangat awam dan membumi. Jangan gunakan istilah "hipertensi esensial", sebut saja "darah tinggi". Audiens akan sangat senang dan merasa dihargai jika mereka memahami apa yang Kamu bicarakan.

2. Kembangkan Topik Pembicaraan (Up the Topic) 

Saat melakukan anamnesis (tanya jawab medis), pasien sering kali merasa tegang. Jangan menginterogasi pasien layaknya seorang robot yang hanya membaca daftar pertanyaan dari lembar rekam medis.

Cairkan suasana dengan membangun rapport (hubungan baik) terlebih dahulu. Kamu bisa basa-basi sejenak menanyakan kabar atau perjalanannya ke rumah sakit. Biarkan kata-kata mengalir secara natural dari pikiranmu. Ketika pasien bertanya tentang hal yang sama berulang kali, jawablah dengan sabar menggunakan analogi sederhana yang mudah dimengerti. Buatlah dirimu dan lawan bicaramu merasa senyaman mungkin.

3.Ciptakan Komunikasi Dua Arah (Feedback) 

Public speaking yang baik bukanlah sebuah monolog yang membosankan. Jangan mendominasi pembicaraan hingga pasien atau audiens tidak memiliki celah untuk berbicara.

Gunakan teknik komunikasi dua arah. Setelah Kamu menjelaskan cara pemakaian suatu obat atau prosedur medis, selalu lemparkan pertanyaan umpan balik (teach-back method). Tanyakan, "Dari penjelasan saya tadi, apakah ada yang masih kurang jelas, Bapak/Ibu?" Hal ini memastikan bahwa informasi yang Kamu berikan benar-benar diserap dengan baik, sekaligus menunjukkan bahwa Kamu adalah pendengar yang aktif.

4. Hindari Membaca Naskah Utuh (Unscripted) 

Saat Kamu mendapat giliran untuk melakukan penyuluhan kesehatan di Puskesmas atau presentasi jurnal ilmiah di kampus, membawa catatan kecil sebagai 'contekan' tentu sangat diperbolehkan.

Namun, hindari menulis naskah lengkap kalimat demi kalimat. Tulis saja poin-poin utama (bullet points) sebagai pengingat kerangka pembicaraan. Jika Kamu terus-menerus menunduk dan membaca teks, kontak mata dengan audiens akan terputus. Hal ini akan membuat audiens merasa diabaikan dan menganggap Kamu kurang percaya diri dengan materi yang dibawakan.

5. Mainkan Intonasi Suara yang Variatif 

Berbicara dengan nada suara datar (monotone) adalah cara paling cepat untuk membuat audiens mengantuk atau pasien merasa Kamu tidak peduli pada penderitaannya. Sesuaikan intonasimu dengan konteks situasi.

Saat mengumumkan berita baik atau mengedukasi masyarakat di acara santai, gunakan nada yang bersemangat, ceria, dan dinamis. Sebaliknya, saat Kamu harus menyampaikan berita buruk (breaking bad news) kepada keluarga pasien, turunkan nada suaramu menjadi lebih lembut, lambat, dan penuh empati. Berikan penekanan suara (aksentuasi) pada kata-kata penting yang ingin Kamu garis bawahi agar audiens bisa menangkap inti pesanmu.

6. Perhatikan Bahasa Nonverbal (Ekspresif) 

Tahukah Kamu bahwa sekitar 80 persen dari total komunikasi manusia bersifat nonverbal? Kata-kata yang keluar dari mulutmu hanya menyumbang sebagian kecil dari keseluruhan pesan.

Postur tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan tangan sangatlah menentukan. Berdirilah dengan tegak, tersenyumlah secara tulus, dan condongkan sedikit tubuhmu ke depan saat pasien sedang berbicara untuk menunjukkan bahwa Kamu memperhatikan mereka secara saksama. Wajah yang kusut, posisi lengan bersedekap di dada, atau mata yang sibuk melihat layar ponsel akan menciptakan tembok pembatas antara Kamu dan pasien.

 

7. Teruslah Berlatih (Practice Makes Perfect) 

Kemampuan berbicara yang memukau tidak lahir dalam semalam. Jika Kamu masih merasa kaku, mintalah bantuan teman sejawatmu untuk melakukan simulasi (bermain peran/ roleplay) konsultasi dokter-pasien secara santai.

Latih dirimu untuk berani memulai percakapan dengan orang-orang baru di lingkungan kampus atau rumah sakit. Tanpa disadari, jam terbang berinteraksi dengan banyak karakter manusia ini akan melatih otakmu menyusun struktur kalimat secara spontan.

Lengkapi Citra Profesionalmu Sekarang! 

Kepercayaan diri dalam berkomunikasi juga sangat dipengaruhi oleh penampilan dan atribut yang Kamu kenakan. Saat Kamu tampil rapi dilengkapi dengan peralatan medis yang berkualitas di saku jas putihmu, wibawa profesionalmu sebagai seorang dokter muda akan langsung terpancar, membuat pasien jauh lebih menaruh hormat dan kepercayaan.

Jangan biarkan dirimu gugup saat berhadapan dengan pasien karena alat medismu tiba-tiba rusak. Pastikan Kamu selalu membawa instrumen diagnostik andalan dengan kualitas original. Untuk melengkapi seluruh kebutuhan perlengkapan stase koas Kamu, Medtools adalah sahabat terbaikmu. Nggak perlu bingung mencari, langsung aja Hubungi WhatsApp Medtools di sini dan jadilah dokter muda yang komunikatif, kompeten, dan penuh persiapan!

Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini

Kesimpulan 

Menguasai teknik public speaking dan komunikasi medis klinis adalah fondasi utama untuk membangun empati dan kepercayaan pasien. Dengan mengenali latar belakang pasien, tidak mendominasi pembicaraan, memvariasikan intonasi suara, hingga menggunakan bahasa tubuh yang terbuka, Kamu akan mengubah ilmu medis yang rumit menjadi pelayanan kesehatan yang menenangkan jiwa. Jangan takut untuk terus berlatih berbicara di depan cermin atau bersama teman. Semangat terus mengasah kemampuan komunikasimu, kelak Kamu pasti akan menjadi dokter idaman masyarakat!

Penulis Asli: Andika Chris Ardiansyah

Peninjau: dr. Stellon Salim

 

Daftar Pustaka

Silverman J, Kurtz S, Draper J. Skills for Communicating with Patients. 3rd ed. London: Radcliffe Publishing; 2013.

Makoul G. Essential elements of communication in medical encounters: the Kalamazoo consensus statement. Acad Med. 2001;76(4):390-393.

Baile WF, Buckman R, Lenzi R, Glober G, Beale EA, Kudelka AP. SPIKES—A six-step protocol for delivering bad news: application to the patient with cancer. Oncologist. 2000;5(4):302-311.

 

Bagikan Artikel:

1 Chat Tentang Artikel Ini!