Sebelumnya, Medi sudah membahas tentang pos-pos pertempuran yang bakal kamu lalui saat menjadi dokter muda. Sekarang, mari kita bahas lebih detail tentang stase-stase (stasiun atau bagian rotasi klinik) selama masa koas.
Setiap universitas atau rumah sakit pendidikan mungkin punya sedikit perbedaan dalam urutan atau durasi pembagian stase. Tapi secara umum, perjalanan koas kamu terbagi menjadi dua jenis stase utama: stase mayor dan stase minor. Yuk, kita bedah satu per satu!
Stase Mayor (8 Minggu atau Lebih)
Stase mayor adalah rotasi besar dalam koas yang durasinya cukup panjang, biasanya berlangsung selama kurang lebih 8 hingga 10 minggu. Di rotasi ini, kamu akan menangani pasien dengan kasus yang sangat kompleks dan mempraktikkan keterampilan klinis dasar secara mendalam.
1. Stase Ilmu Penyakit Dalam (IPD)
Di stase ini, kamu akan belajar langsung dari dokter Spesialis Penyakit Dalam (Sp.PD), serta mungkin sub-spesialis seperti jantung atau paru. Fokus utamanya adalah mendiagnosis dan menangani penyakit-penyakit sistemik non-bedah yang mencakup hampir seluruh organ tubuh manusia. Stase ini dikenal sangat menguras otak dan fisik karena jumlah pasiennya yang membeludak di bangsal rawat inap.
2. Stase Ilmu Kebidanan dan Kandungan (Obgyn)
Di bawah bimbingan dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG), fokus belajar kamu meliputi sistem reproduksi wanita, kehamilan, persalinan, masalah kesuburan, hingga kasus keganasan seperti kanker serviks. Kesibukannya sangat padat, dan kamu harus siap sedia sewaktu-waktu menolong persalinan normal (partus) di tengah malam sekalipun.
3. Stase Ilmu Bedah
Di stase ini, kamu akan belajar dengan dokter Spesialis Bedah (Sp.B) beserta sub-spesialisnya (bedah tulang, bedah anak, bedah saraf, dll). Fokus utamanya adalah manajemen luka, persiapan pre-operasi, hingga menjadi asisten dokter di kamar operasi (OK). Ini adalah salah satu stase paling melelahkan secara fisik karena kamu harus berdiri berjam-jam saat operasi dan rutin melakukan rawat luka pasien di bangsal setiap pagi.
4. Stase Ilmu Kesehatan Anak (Pediatri)
Bersama dokter Spesialis Anak (Sp.A), kamu akan berfokus pada cara menangani pasien bayi hingga remaja. Stase ini termasuk salah satu yang tersulit dan butuh ketelitian esktra. Ingat, anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa; anatomi, fisiologi, hingga perhitungan dosis obat mereka sangat berbeda, ditambah lagi pasien bayi tidak bisa mengutarakan keluhannya sendiri.
5. Stase Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM)
Berbeda dari stase mayor lainnya yang berpusat di rumah sakit, di stase IKM kamu akan diterjunkan langsung ke Puskesmas. Fokus utamanya adalah kedokteran pencegahan, mengikuti program Posyandu, memberikan penyuluhan kesehatan warga, dan memahami sistem rujukan BPJS. Karena mengikuti jam kerja kantoran Puskesmas, stase ini relatif jauh lebih santai secara fisik dibandingkan stase mayor lainnya.
Stase Minor (4 Minggu atau Lebih)
Stase minor adalah rotasi yang durasinya lebih singkat, biasanya berlangsung sekitar 4 hingga 5 minggu. Beban fisiknya umumnya sedikit lebih ringan dibandingkan stase mayor, tetapi ilmunya sangat spesifik.
6. Stase Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT)
Fokus utamanya adalah mendiagnosis penyakit dan mengikuti tindakan bedah ringan di area THT-Kepala Leher. Stase ini tidak terlalu melelahkan dari segi jaga malam, tetapi jadwal poli THT biasanya sangat ramai dan padat antrean.
7. Stase Neurologi (Saraf)
Fokus utamanya adalah mendiagnosis penyakit sistem saraf seperti stroke, trauma kepala, infeksi otak, dan gangguan kesadaran. Stase ini tergolong cukup berat dan membutuhkan jam jaga malam karena kamu akan menangani banyak pasien gawat darurat dengan kondisi yang sangat kompleks.
8. Stase Anestesiologi
Fokus utama stase ini adalah teknik resusitasi cairan, manajemen jalan napas (intubasi), pembiusan, serta pengawasan tanda-tanda vital pasien saat operasi. Karena berhubungan erat dengan nyawa pasien kritis, kamu akan menghabiskan hampir seluruh waktumu di dalam kamar operasi (OK) dan ruang ICU.
9. Stase Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fokus utamanya adalah melatih ketajaman visual untuk mengenali berbagai macam wujud kelainan kulit dan mengobati infeksi menular seksual. Stase ini menjadi primadona karena biasanya tidak ada jadwal jaga malam; rutinitasmu lebih banyak dihabiskan di pelayanan poliklinik.
10. Stase Kedokteran Jiwa (Psikiatri)
Kamu akan berfokus pada teknik wawancara psikiatrik dan penanganan pasien dengan gangguan kejiwaan/mental (biasanya berlokasi di Rumah Sakit Jiwa). Secara fisik cukup santai, tapi kamu butuh mental dan kesabaran ekstra kuat untuk berinteraksi serta membangun kepercayaan dengan pasien.
11. Stase Kedokteran Forensik
Stase ini akan membawamu ke kamar jenazah. Fokus utamanya adalah pembuatan Visum et Repertum untuk korban hidup (kasus kekerasan) dan pemeriksaan luar/dalam jenazah (otopsi). Tingkat kesibukannya sangat fluktuatif, tergantung ada atau tidaknya kasus kiriman dari pihak kepolisian.
12. Stase Ilmu Penyakit Mata
Mirip dengan stase THT, aktivitasmu akan sangat banyak berpusat di poli. Fokus utamanya adalah pemeriksaan ketajaman penglihatan (visus) pasien, anatomi mata, dan observasi tindakan operasi seperti katarak.
13. Stase Gigi dan Mulut
Fokus utamanya adalah pemeriksaan dasar rongga mulut dan pengenalan kegawatdaruratan trauma gigi. Sebagai calon dokter umum, kamu akan lebih banyak melakukan observasi dibandingkan melakukan tindakan langsung di rongga mulut pasien.
14. Stase Radiologi
Fokus utamanya adalah melatih mata untuk menginterpretasi hasil pencitraan medis seperti foto Rontgen, CT-scan, dan USG. Kamu akan banyak menghabiskan waktu di ruangan baca radiologi yang dingin dan gelap, sehingga jarang berinteraksi langsung dengan pasien.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, perjalanan koas memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Di setiap pergantian stase, kamu akan dipaksa belajar ilmu baru, mengasah keterampilan klinis, serta melatih ketahanan mental untuk menjadi dokter yang tangguh dan siap melayani masyarakat.
Biar perputaran stase kamu makin lancar tanpa halangan, kamu tentu butuh "senjata" peralatan medis yang lengkap! Dari stetoskop mumpuni, penlight, tensimeter, hingga palu refleks. Langsung saja hubungi Medtools.id di WhatsApp (Medi) buat mendapatkan perlengkapan koas original dengan harga terbaik khusus mahasiswa kedokteran!
Semangat terus jalani masa koasnya, calon sejawat!
Penulis: Andika Chris Ardiansyah
Peninjau: dr. Stellon Salim
Daftar Pustaka
Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). (2019). Buku Panduan Umum Kepaniteraan Klinik Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: AIPKI Press.
Budiman, A., & Ardiansyah, M. (2022). Panduan Klinis Kepaniteraan Klinik (Koas) untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). (2012). Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI). Jakarta: KKI.
Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI). (2020). Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Profesi Dokter di Rumah Sakit Pendidikan. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia.
Prawirohardjo, S. (2020). Etika Kedokteran dan Komunikasi Klinis dalam Praktik Rumah Sakit. Surabaya: Airlangga University Press.