Dalam lingkungan kerja modern, keselamatan karyawan menjadi prioritas utama, terutama dalam menghadapi kondisi darurat seperti henti jantung mendadak. Automated External Defibrillator (AED) kini menjadi salah satu alat penting dalam sistem keselamatan kerja (K3) karena mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat dan efektif.
Bagi tim procurement, memahami standar penggunaan AED di perusahaan bukan hanya soal pengadaan alat, tetapi juga bagaimana memastikan alat tersebut digunakan secara optimal, sesuai regulasi, dan siap digunakan kapan saja. Artikel ini akan membahas standar penggunaan AED yang perlu diterapkan di tempat kerja.
Henti jantung mendadak dapat terjadi kapan saja, termasuk di lingkungan kerja. Tanpa penanganan cepat, risiko kematian meningkat secara signifikan dalam hitungan menit. AED memungkinkan pertolongan pertama dilakukan sebelum tenaga medis tiba, sehingga meningkatkan peluang keselamatan korban.
Selain itu, keberadaan AED juga mendukung implementasi sistem K3 yang lebih komprehensif. Banyak perusahaan mulai menjadikan AED sebagai bagian dari standar keselamatan, terutama di industri dengan risiko tinggi atau jumlah karyawan besar.
Penempatan AED harus strategis agar mudah diakses dalam kondisi darurat. Idealnya, AED ditempatkan di lokasi dengan mobilitas tinggi dan mudah terlihat oleh seluruh karyawan. Selain itu, waktu akses ke AED sebaiknya tidak lebih dari 3 menit dari titik mana pun di area kerja.
Beberapa lokasi yang direkomendasikan untuk penempatan AED
antara lain:
Meskipun AED dirancang untuk penggunaan umum, perusahaan tetap perlu memastikan adanya pelatihan dasar bagi karyawan. Pelatihan ini biasanya mencakup pengenalan alat, cara penggunaan, serta prosedur dasar CPR.
Berikut langkah umum penggunaan AED di tempat kerja:
1. Pastikan korban tidak responsif dan tidak bernapas normal
2. Hubungi tim medis atau emergency response internal
3. Ambil AED dan nyalakan perangkat
4. Pasang elektroda sesuai petunjuk
5. Ikuti instruksi suara dari AED
6. Berikan shock jika dianjurkan oleh alat
AED harus selalu dalam kondisi siap pakai. Oleh karena itu, perusahaan perlu memiliki SOP pemeliharaan yang jelas. Pemeriksaan rutin harus dilakukan untuk memastikan baterai dan elektroda dalam kondisi baik.
Beberapa aspek penting dalam maintenance AED:
Penggunaan AED harus terintegrasi dengan sistem keselamatan kerja secara keseluruhan. Artinya, AED tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari emergency response plan perusahaan.
Hal ini mencakup:

Bagi tim procurement, pengadaan AED tidak cukup hanya memilih produk terbaik, tetapi juga memastikan implementasi yang sesuai standar. Hal ini mencakup pemilihan alat yang user-friendly, tahan lama, serta memiliki sistem self-check yang memudahkan maintenance.
Selain itu, procurement juga perlu mempertimbangkan jumlah unit yang dibutuhkan berdasarkan luas area dan jumlah karyawan. Dengan perencanaan yang tepat, investasi AED dapat memberikan manfaat maksimal dalam jangka panjang.
Standar penggunaan AED di perusahaan mencakup penempatan, pelatihan, prosedur penggunaan, maintenance, dan integrasi dengan sistem K3. Implementasi yang baik tidak hanya meningkatkan keselamatan, tetapi juga menunjukkan komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan.
Bagi perusahaan modern, AED bukan lagi sekadar alat tambahan, melainkan bagian penting dari sistem keselamatan kerja yang wajib dipertimbangkan.
Untuk kebutuhan pengadaan AED dan alat kesehatan lainnya untuk institusi Anda, silakan konsultasi langsung melalui WhatsApp berikut:
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini!
1. American Heart Association. Highlights of the 2020 American Heart Association Guidelines for CPR and ECC. Dallas: AHA; 2020.
2. European Resuscitation Council. ERC Guidelines for Resuscitation 2021. Resuscitation Journal.
3. Occupational Safety and Health Administration (OSHA). Automated External Defibrillators in the Workplace. Washington DC: OSHA.
4. World Health Organization. Cardiovascular diseases (CVDs). Geneva: WHO; 2021.