Halo, sejawat calon dokter! Mempelajari ilmu kedokteran modern dengan segala teknologi canggihnya tentu sangat menarik. Namun, pernahkah kamu menengok ke belakang untuk mengetahui bagaimana perjalanan sejarah kedokteran di Indonesia bermula?.
Mengetahui akar sejarah profesi mulia ini bukan sekadar hafalan fakta masa lalu. Pemahaman ini akan menumbuhkan rasa bangga dan nasionalisme yang kuat di dalam dada setiap mahasiswa kedokteran.
Sejarah mencatat bahwa perkembangan ilmu medis di Nusantara sangat erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan bangsa. Dari era kolonial Belanda yang penuh keterbatasan hingga masa revolusi, para dokter Indonesia selalu berada di garda terdepan.
Mari kita telusuri bersama napak tilas pendidikan dan pelayanan kesehatan di bumi pertiwi dari masa ke masa.
Pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda menghadapi wabah cacar yang meluas di berbagai wilayah Nusantara. Untuk mengatasi krisis kesehatan ini, mereka menyadari perlunya tenaga medis lokal yang bisa diterjunkan ke masyarakat dengan biaya lebih murah.
Atas inisiatif Kepala Dinas Kesehatan Militer saat itu, dr. Willem Bosch, berdirilah Sekolah Dokter Djawa pada tahun 1851 di Weltevreden, Batavia. Lulusan sekolah ini awalnya hanya dididik selama dua tahun dan diberi gelar sebagai "Mantri Cacar".
Meskipun kurikulum awalnya sangat sederhana, institusi ini menjadi tonggak sejarah dimulainya pendidikan kedokteran formal di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, durasi dan materi pendidikan terus disempurnakan karena tuntutan kebutuhan medis yang semakin kompleks.
Para pelajar tidak lagi hanya dilatih untuk menyuntikkan vaksin cacar, melainkan mulai diajarkan dasar-dasar ilmu kedokteran Barat secara lebih mendalam.
Memasuki akhir abad ke-19, Sekolah Dokter Djawa mengalami transformasi besar-besaran dan berganti nama menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Lulusan STOVIA diakui secara resmi sebagai Inlandsche Arts atau dokter bumiputera yang memiliki kewenangan klinis lebih luas.
Kurikulum diperketat dan disetarakan dengan sekolah kedokteran di Eropa, menjadikan STOVIA sebagai kawah candradimuka intelektual muda Nusantara. Selain di Batavia, pemerintah juga mendirikan NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya pada tahun 1913 untuk memenuhi kebutuhan dokter.
Menariknya, STOVIA tidak hanya mencetak tenaga medis yang andal, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan. Perkumpulan Budi Utomo lahir dari rahim STOVIA pada tahun 1908, menandai dimulainya era Kebangkitan Nasional di tanah air.
Selain itu, sejarah juga mencatat lahirnya pelopor dokter wanita pertama di Indonesia, yaitu dr. Marie Thomas, yang berhasil lulus dari STOVIA pada tahun 1922.
Sejarah kedokteran di Indonesia kembali memasuki babak baru saat masa pendudukan Jepang. Pada era ini, nama institusi pendidikan kedokteran diubah menjadi Ika Daigaku dan sistem pendidikan disesuaikan dengan aturan militer Jepang yang ketat.
Meskipun berlangsung singkat, masa ini memberikan pengalaman tersendiri bagi para dokter Indonesia dalam mengelola fasilitas kesehatan secara mandiri tanpa campur tangan tenaga medis Belanda. Bahasa pengantar yang digunakan dalam perkuliahan pun mulai beralih menggunakan bahasa Indonesia.
Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, pendidikan kedokteran diambil alih sepenuhnya oleh pemerintah kebangsaan kita. Ika Daigaku di Jakarta bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia yang kelak menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).
Di Yogyakarta, lahir pula Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai simbol pendidikan medis di ibu kota perjuangan pada masa revolusi. Dari sinilah, fakultas kedokteran terus berkembang pesat di berbagai universitas di seluruh penjuru tanah air.
Berikut adalah ringkasan tahapan penting sejarah kedokteran di Indonesia yang perlu kamu ketahui:
Perjalanan panjang sejarah kedokteran di Indonesia membuktikan bahwa profesi dokter memiliki akar yang kuat dalam perjuangan bangsa. Para pendahulu kita tidak hanya berjuang melawan penyakit fisik, tetapi juga turut menyembuhkan "penyakit" penjajahan melalui pergerakan nasional yang intelektual.
Sebagai mahasiswa kedokteran masa kini, kamu memikul tanggung jawab besar untuk meneruskan tongkat estafet perjuangan tersebut. Jadikanlah sejarah ini sebagai motivasi untuk terus belajar dan mengabdi setulus hati demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang sehat.
Untuk mendukung perjalanan belajarmu dalam memahami ilmu kedokteran dasar, persiapan ujian OSCE, maupun pendalaman materi klinis lainnya, kamu bisa bergabung bersama Medtools Academy. Silakan hubungi kami untuk informasi kelas dan bimbingan melalui WhatsApp di nomor berikut ini:
Penulis: Andika Chris Ardiansyah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS). (2024). Sejarah STOVIA, Kiprah Dokter Willem Bosch, dan Pelopor Dokter Wanita di Indonesia.
Diakses dari https://sejarah.fkip.uns.ac.id/2024/08/02/sejarah-stovia-kiprah-dokter-willem-bosch-dan-pelopor-dokter-wanita-di-indonesia/ Jurnal BIK Universitas Gadjah Mada (UGM). (n.d.). Sejarah Pendidikan Kedokteran di Indonesia.
Diakses dari https://journal.ugm.ac.id/bik/article/view/4753/0 Kompaspedia. (n.d.). Sejarah Pendidikan Kedokteran Indonesia: Dari Era Kolonial hingga Revolusi Kemerdekaan.
Diakses dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/sejarah-pendidikan-kedokteran-indonesia-dari-era-kolonial-hingga-revolusi-kemerdekaan Kompasiana. (2022). Sejarah Singkat Kedokteran di Indonesia dan 5 Problematika Kedokteran di Indonesia Menuju Indonesia Sehat.
Diakses dari https://www.kompasiana.com/achmadirfan5199/63565a264addee1ed87ceda2/sejarah-singkat-kedokteran-di-indonesia-dan-5-problematika-kedokteran-di-indonesia-menuju-indonesia-sehat Scribd. (n.d.). Sejarah Kedokteran Di Indonesia.
Diakses dari https://id.scribd.com/doc/304018285/Sejarah-Kedokteran-Di-Indonesia