OSCE Preparation

Bagaimana Cara Melakukan Funduscopy yang Benar? Panduan Langkah untuk Mahasiswa FK

Bagaimana Cara Melakukan Funduscopy yang Benar? Panduan Langkah untuk Mahasiswa FK

Funduscopy yang benar dimulai dari persiapan ruangan dan alat yang tepat, diikuti oleh pemeriksaan refleks merah, lokalisasi diskus optikus sebagai landmark pertama, evaluasi sistematis pembuluh darah retina, pemeriksaan makula, dan penilaian latar belakang retina secara keseluruhan. Urutan ini bukan sekadar konvensi, melainkan pendekatan sistematis yang memastikan tidak ada struktur penting yang terlewat dan bahwa setiap temuan diinterpretasikan dalam konteks yang benar.

Penelitian tentang pengajaran funduscopy secara konsisten menemukan bahwa mahasiswa FK yang menerima instruksi formal terstruktur sebelum berlatih menunjukkan performa signifikan lebih baik pada OSCE dibandingkan yang belajar secara mandiri tanpa panduan urutan. Di FK UGM, pola kesalahan OSCE stase mata yang paling konsisten adalah pada sub-komponen pemeriksaan fisik (rata-rata skor 74,62%) dan diagnosis (60,68%), menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya perlu tahu cara memegang alat, tetapi juga cara membaca temuan secara sistematis dan menghubungkannya dengan diagnosis.

 

Artikel ini membahas:

  • Persiapan alat, ruangan, dan pasien sebelum funduscopy
  • Cara menyetel direct ophthalmoscope sebelum digunakan
  • Teknik pemeriksaan refleks merah sebagai langkah awal
  • Panduan langkah demi langkah menemukan dan mengevaluasi setiap struktur fundus
  • Nilai normal yang harus diketahui dan gambaran abnormal yang harus dikenali

 

Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum Melakukan Funduscopy?

Persiapan sebelum funduscopy mencakup tiga komponen yang sama pentingnya: penyetelan alat, kondisi ruangan, dan persiapan pasien. Melewatkan salah satu komponen ini akan menyulitkan pemeriksaan meskipun teknik yang digunakan sudah benar.

 

Penyetelan Direct Ophthalmoscope

Direct ophthalmoscope memiliki beberapa komponen yang perlu disetel sebelum digunakan. Komponen utama yang perlu dipahami adalah:

  • Aperture selector adalah pemilih ukuran dan jenis berkas cahaya yang akan digunakan. Untuk pemeriksaan fundus rutin, gunakan aperture besar (large beam) karena memberikan iluminasi paling luas pada fundus.
  • Lens disc atau diopter wheel adalah roda pemilih lensa koreksi. Lensa dengan angka positif (warna hijau atau bertanda +) digunakan untuk melihat struktur yang lebih anterior atau untuk mengkompensasi hipermetropia pasien maupun pemeriksa. Lensa negatif (warna merah atau bertanda -) digunakan untuk mengkompensasi miopia. Untuk pemeriksa emmetropia (tidak berkacamata) yang memeriksa pasien emmetropia, mulai dari posisi nol atau mendekati nol.
  • Rheostat atau pengatur intensitas cahaya disetel ke intensitas cukup terang untuk melihat fundus, tetapi tidak terlalu terang karena cahaya yang terlalu kuat tidak nyaman bagi pasien dan bisa menyebabkan konstriksi pupil yang semakin mempersulit pemeriksaan.

 

Kondisi Ruangan

Ruangan harus dalam kondisi gelap atau remang-remang (semi-darkened room). Ini adalah salah satu faktor yang paling sering diabaikan mahasiswa. Ruangan yang terang menyebabkan pupil pasien berkontriksi secara refleks, memperkecil jendela optik yang tersedia untuk pemeriksaan. Matikan lampu utama dan biarkan hanya pencahayaan minimal atau gelap total. Di kondisi ideal klinis, midriatikum (obat tetes pelebar pupil) diberikan sebelum pemeriksaan untuk dilatasi maksimal.

 

Persiapan Pasien

Pasien diminta duduk atau berbaring dengan nyaman, kepala tegak, dan mata menatap lurus ke depan pada suatu titik fiksasi jauh. Titik fiksasi yang jauh penting karena membantu mempertahankan mata dalam posisi akomodasi minimal, mengurangi konstriksi pupil refleks, dan menjaga arah pandang yang konsisten selama pemeriksaan.

 

Sebelum memulai, informasikan kepada pasien bahwa cahaya mungkin terasa silau dan minta mereka untuk sebisa mungkin tidak berkedip. Jika pasien menggunakan kacamata, pada umumnya kacamata dilepas dan koreksi refraksi dilakukan menggunakan diopter wheel ophthalmoscope, meskipun dalam beberapa situasi kacamata bisa tetap dipakai.

 

Bagaimana Cara Memegang dan Memposisikan Direct Ophthalmoscope dengan Benar?

Posisi pemeriksa dan cara memegang ophthalmoscope menentukan apakah pemeriksaan bisa dilakukan dengan nyaman dan efektif. Kesalahan posisi adalah penyebab paling umum mengapa mahasiswa gagal mendapatkan gambaran fundus yang jelas.

 

Aturan tangan dan mata:

Periksa mata kanan pasien menggunakan tangan kanan dan mata kanan pemeriksa. Periksa mata kiri pasien menggunakan tangan kiri dan mata kiri pemeriksa. Aturan ini memastikan pemeriksa tidak harus "bersilang" di depan pasien, menjaga posisi yang ergonomis, dan mempertahankan jarak yang tepat antara ophthalmoscope dan mata pemeriksa maupun pasien.

 

Cara memegang ophthalmoscope:

Pegang ophthalmoscope seperti memegang pensil, dengan ibu jari pada diopter wheel untuk memudahkan penyesuaian lensa selama pemeriksaan. Tempelkan ophthalmoscope pada tepi atas orbit mata pemeriksa sendiri (bukan langsung ke bola mata) sehingga pemeriksa bisa melihat melalui aperture dengan nyaman. Jaga agar ophthalmoscope selalu menempel pada wajah pemeriksa selama pemeriksaan untuk meminimalkan gerakan.

 

Posisi tubuh pemeriksa:

Pemeriksa berdiri atau duduk sedikit di sisi temporal pasien (bukan tepat di depan), dengan tinggi kepala kira-kira setinggi kepala pasien. Posisi ini memudahkan pemeriksaan retina temporal dan makula yang terletak di sisi temporal diskus optikus.

 

Bagaimana Cara Melakukan Pemeriksaan Refleks Merah sebagai Langkah Pertama?

Pemeriksaan refleks merah adalah langkah awal sebelum mendekati pasien untuk melihat fundus secara detail. Langkah ini memberikan informasi tentang kejernihan media okular dan mengkonfirmasi bahwa tidak ada hambatan besar antara sumber cahaya dan retina.

Caranya: dari jarak sekitar 30 cm, arahkan cahaya ophthalmoscope ke pupil pasien dan perhatikan warna pantulan cahaya yang terlihat. Refleks merah normal adalah pantulan berwarna merah-orange yang terang dan homogen di dalam pupil, seperti mata kucing yang terkena sorot lampu.

 

Interpretasi refleks merah:

  • Refleks merah normal menunjukkan media okular jernih (kornea, lensa, dan vitreus transparan) dan tidak ada massa besar di vitreus atau retina anterior.
  • Refleks merah yang tidak ada atau sangat redup bisa menandakan katarak padat, perdarahan vitreus masif, atau kekeruhan media okular lainnya.
  • Refleks merah yang asimetris antara dua mata (satu terang, satu redup atau tidak ada) pada anak-anak adalah tanda kewaspadaan untuk retinoblastoma atau strabismus.
  • Leukokoria (refleks putih) menggantikan refleks merah normal adalah temuan klinis yang membutuhkan evaluasi segera, karena bisa menandakan retinoblastoma, katarak kongenital, atau retinal detachment.

 

Bagaimana Langkah Demi Langkah Melakukan Funduscopy yang Sistematis?

Setelah refleks merah dikonfirmasi, pemeriksa mendekati pasien secara perlahan sambil terus menjaga cahaya tetap masuk melalui pupil. Pendekatan yang terlalu cepat atau pergerakan yang tidak terkontrol menyebabkan cahaya keluar dari pupil dan gambaran hilang.

 

Langkah 1: Mendekati pasien dan menemukan gambaran pertama

Dari posisi refleks merah (30 cm), perlahan dekatkan ophthalmoscope sambil menjaga cahaya tetap pada pupil. Saat jarak mencapai sekitar 10 cm, gambaran struktur retina akan mulai terlihat. Jika gambaran terlihat buram, sesuaikan diopter wheel secara perlahan hingga gambar menjadi tajam. Sesuaikan lensa satu klik pada satu waktu dan tunggu sebentar sebelum menyesuaikan lagi.

 

Langkah 2: Menemukan diskus optikus sebagai landmark pertama

Diskus optikus adalah struktur yang paling mudah ditemukan dan harus menjadi titik orientasi pertama. Untuk menemukan diskus optikus, minta pasien menatap sedikit ke atas dan ke dalam (ke arah hidung pemeriksa). Diskus optikus terletak di arah nasal retina, sehingga dengan meminta pasien menatap ke arah nasal akan menempatkan area sekitar diskus ke dalam lapang pandang.

 

Jika tidak langsung menemukan diskus, ikuti salah satu pembuluh darah retina yang terlihat: pembuluh darah retina selalu berkonvergensi menuju diskus optikus. Ikuti pembuluh ke arah yang lebih besar (bukan ke cabang yang lebih kecil) dan diskus akan ditemukan.

 

Langkah 3: Evaluasi diskus optikus secara sistematis

Setelah diskus ditemukan, evaluasi menggunakan akronim yang membantu (berbagai sumber menggunakan variasi dari pendekatan ini):

  • Warna (Color): Diskus optikus normal berwarna merah muda kekuningan (pinkish-yellow). Diskus pucat atau putih menandakan atrofi optik. Diskus hiperemis (terlalu merah) bisa menandakan papil edema atau neuritis optik.
  • Cup-to-disc ratio (CDR): Rasio antara diameter cup (cekungan sentral diskus yang lebih pucat) terhadap diameter total diskus. Normal kurang dari 0,5. CDR lebih dari 0,6 atau asimetris antar mata menjadi kewaspadaan untuk glaukoma.
  • Batas diskus (Disc margins): Normal batas diskus tegas dan jelas di semua sisi, terutama di sisi nasal, superior, dan inferior. Batas kabur atau terangkat menandakan papil edema. Batas yang sangat tajam dan berbentuk crescent bisa menandakan atrofi peripapilar pada miopia tinggi.
  • Neuroretinal rim: Jaringan saraf merah muda yang mengelilingi cup. Secara normal paling tebal di inferior dan superior, dan paling tipis di nasal dan temporal (aturan ISNT). Penipisan neuroretinal rim terutama di inferior dan superior adalah tanda glaukoma.

 

Langkah 4: Evaluasi pembuluh darah retina

  • Dari diskus optikus, ikuti masing-masing dari empat cabang vaskular utama: arteri dan vena superior temporal, arteri dan vena inferior temporal, arteri dan vena superior nasal, dan arteri dan vena inferior nasal. Evaluasi menggunakan parameter berikut:
  • Kaliber: Rasio diameter arteri terhadap vena normal adalah 2:3 atau sekitar 0,66. Penyempitan arteri (rasio lebih kecil) adalah tanda retinopati hipertensif.
  • Refleks cahaya arteri: Arteri normal memiliki refleks cahaya yang tipis di tengahnya (copper wire reflex atau silver wire reflex pada hipertensi berat menunjukkan pengerasan dinding arteri).
  • AV nicking: Di titik persilangan antara arteri dan vena, pada retinopati hipertensif, arteri yang mengeras menekan vena di bawahnya sehingga vena tampak terputus atau menyempit di titik persilangan.
  • Perdarahan: Perdarahan flame-shaped (mengikuti serat saraf, berbentuk api) adalah khas hipertensi. Perdarahan dot-blot (berbentuk titik atau bercak merah bulat kecil) khas diabetes. Perdarahan preretinal (berbentuk kapal, boat-shaped) terletak di depan retina.

 

Langkah 5: Evaluasi makula

  • Makula adalah struktur yang paling sulit divisualisasikan karena terletak tepat di sumbu optik posterior mata. Untuk memeriksa makula, minta pasien menatap langsung ke cahaya ophthalmoscope. Saat pasien menatap cahaya, makula akan berada tepat di pusat lapang pandang.
  • Normal: makula tampak sebagai area berwarna lebih gelap dari retina sekitarnya dengan refleks cahaya kecil berwarna kuning keemasan di tengahnya (foveal reflex). Pada pasien lebih tua, refleks fovea bisa menghilang.
  • Abnormal: edema makula tampak sebagai area yang lebih tebal dan opak. Eksudat keras (hard exudates) di sekitar makula berbentuk deposisi kuning-putih kecil yang khas pada retinopati diabetik dan hipertensif. Perdarahan submakuler tampak sebagai area gelap di bawah makula.

 

Langkah 6: Evaluasi latar belakang retina

Setelah diskus, pembuluh darah, dan makula dievaluasi, periksa latar belakang retina secara umum untuk mencari lesi fokal. Latar belakang retina normal berwarna merah-orange homogen dengan variasi fisiologis tergantung pigmentasi individu.

Temuan yang perlu dicari: eksudat lunak (soft exudates atau cotton wool spots) yang tampak sebagai bercak putih berbatas tidak tegas (menandakan infark lapisan serat saraf retina, khas pada hipertensi berat dan HIV), drusen (deposit kuning-putih kecil yang khas pada age-related macular degeneration), dan pigmen yang tidak normal.

 

Apa Nilai Normal dan Gambaran Abnormal yang Harus Diketahui Mahasiswa FK?

Apa Tips Praktis untuk Mahasiswa FK yang Baru Pertama Kali Berlatih Funduscopy?

Penelitian tentang pembelajaran funduscopy di FK secara konsisten mengidentifikasi beberapa strategi yang terbukti meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri mahasiswa.

 

Tip pertama: Pelajari foto fundus normal sebelum berlatih menggunakan alat.

Studi di Queen's University menemukan bahwa mahasiswa yang berlatih mengidentifikasi gambaran fundus dari foto sebelum OSCE menunjukkan performa 78,3% dibandingkan kelompok kontrol yang hanya 69,4%. Mengenal tampilan visual diskus optikus, makula, pembuluh darah, dan latar belakang retina dari foto membangun representasi mental yang membantu saat melihat melalui ophthalmoscope.

 

Tip kedua: Gunakan manekin atau simulator fundus untuk latihan awal.

Latihan pada manekin atau simulator fundus memungkinkan pengulangan teknik tanpa batas waktu dan tanpa harus mempertimbangkan kenyamanan probandus. Studi dari Sun Yat-sen University (2024) menemukan bahwa mahasiswa yang berlatih menggunakan simulator ophthalmoscope mengalami peningkatan signifikan dalam kompetensi fundus examination dibandingkan kelompok yang hanya berlatih konvensional.

 

Tip ketiga: Selalu mulai dari refleks merah, bukan langsung mendekat.

Melewatkan langkah refleks merah dan langsung mendekati pasien tanpa orientasi awal adalah kesalahan yang paling sering menyebabkan mahasiswa tidak menemukan pupil dan kehilangan gambaran. Refleks merah memastikan posisi cahaya sudah benar sebelum mendekati.

 

Tip keempat: Ikuti pembuluh darah jika tidak bisa menemukan diskus.

Dalam kondisi pupil kecil atau pasien yang tidak bisa mempertahankan posisi pandang, menemukan diskus optikus bisa sangat sulit. Ikuti pembuluh darah retina ke arah konvergensinya (ke cabang yang lebih besar, bukan lebih kecil) dan diskus selalu akan ditemukan di ujung konvergensi tersebut.

 

Tip kelima: Periksa makula di akhir, bukan di awal.

Cahaya yang diarahkan ke makula menyebabkan pasien refleks menutup mata atau menggerakkan bola mata menjauh. Memeriksa makula di akhir setelah semua struktur lain sudah dievaluasi menjaga kooperasi pasien selama pemeriksaan.

 

Tip keenam: Kalibrasi diopter wheel sebelum memulai.

Sebelum mendekati pasien, setel diopter wheel ke angka yang mengkompensasi refraksi pemeriksa sendiri. Pemeriksa miopia menggunakan lensa negatif, pemeriksa hipermetropia menggunakan lensa positif. Jika pemeriksa melepas kacamata untuk pemeriksaan, gunakan setting yang sesuai untuk mengkompensasi kelainan refraksinya sendiri.

Untuk kebutuhan direct ophthalmoscope original bergaransi, penlight untuk pemeriksaan refleks pupil, dan perlengkapan klinis pemeriksaan mata lainnya, konsultasikan dan pesan melalui WhatsApp Medtools:Β 

Whatsapp kami Disini

 

Kesimpulan

Funduscopy yang benar adalah kombinasi dari persiapan yang tepat, teknik yang terstandar, dan pendekatan sistematis dalam mengevaluasi setiap struktur fundus. Enam langkah utama yang harus dikuasai adalah: persiapan alat dan ruangan, penyetelan diopter wheel, pemeriksaan refleks merah, menemukan diskus optikus sebagai landmark pertama, evaluasi pembuluh darah retina secara sistematis, dan pemeriksaan makula di akhir. Nilai normal yang harus diketahui mencakup warna dan batas diskus, CDR kurang dari 0,5, rasio arteri-vena 2:3, dan gambaran foveal reflex. Kemampuan membandingkan temuan ini dengan gambaran abnormal khas retinopati diabetik, retinopati hipertensif, papil edema, dan glaukoma adalah komponen yang paling banyak diuji di OSCE dan paling sering menjadi titik lemah mahasiswa FK Indonesia.

Untuk kebutuhan direct ophthalmoscope original bergaransi untuk latihan mandiri funduscopy dan persiapan OSCE pemeriksaan mata, hubungi Medtools melalui WhatsApp

Whatsapp kami Disini

 

FAQ

Apa langkah pertama yang harus dilakukan saat melakukan funduscopy?

Langkah pertama adalah menyiapkan kondisi ruangan yang gelap atau remang-remang, menyetel diopter wheel ophthalmoscope sesuai refraksi pemeriksa, kemudian melakukan pemeriksaan refleks merah dari jarak 30 cm sebelum mendekati pasien untuk melihat fundus secara detail.

Bagaimana cara menemukan diskus optikus yang cepat saat funduscopy?

Minta pasien menatap sedikit ke atas dan ke dalam (ke arah hidung pemeriksa), karena diskus optikus terletak di sisi nasal retina. Jika tidak langsung ditemukan, ikuti salah satu pembuluh darah retina ke arah cabang yang lebih besar karena semua pembuluh retina berkonvergensi menuju diskus.

Apa nilai normal cup-to-disc ratio?

Cup-to-disc ratio normal adalah kurang dari 0,5. Nilai lebih dari 0,6 atau asimetris yang signifikan antara dua mata (perbedaan lebih dari 0,2) menjadi kewaspadaan untuk glaukoma dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut oleh spesialis mata.

Mengapa pemeriksaan makula dilakukan di akhir?

Cahaya yang diarahkan langsung ke makula, yang merupakan titik penglihatan paling sensitif, menyebabkan refleks pupil konstriksi yang kuat dan pasien cenderung menggerakkan mata menjauh. Memeriksa makula di akhir mempertahankan kooperasi pasien selama pemeriksaan struktur lain yang dinilai lebih dulu.

Apa perbedaan perdarahan flame-shaped dan dot-blot pada fundus?

Perdarahan flame-shaped (berbentuk api atau lidah api) terjadi di lapisan serat saraf retina dan khas pada retinopati hipertensif. Perdarahan dot-blot (berbentuk titik atau bercak bulat kecil) terjadi di lapisan retina yang lebih dalam dan khas pada retinopati diabetik. Keduanya bisa ditemukan bersamaan pada pasien dengan diabetes dan hipertensi.

 

Daftar Pustaka

  • Bickley LS, Szilagyi PG. Bates' Guide to Physical Examination and History Taking. 13th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2021.
  • Widyandana D, Agni AN, Supartoto A. The undergraduate medical students' pitfalls in eye examination station of objective structured clinical examination. Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia. 2019;8(3):144–52.
  • American Academy of Ophthalmology. Fundamentals and Principles of Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course. San Francisco: AAO; 2022.
  • Geeky Medics. Fundoscopy (Ophthalmoscopy): OSCE Guide β€” A step-by-step guide to performing fundoscopy. GeekyMedics; 2023.
  • Putra GN, Mulyana RA, Atik N. Pelatihan funduskopi direk sebagai sarana penyegaran bagi dokter umum di Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Pepadu. 2021;2(4).
  • Li T, Jing YW, Chen ZJ, Xiao X, Gao X, Liu Y. Eyesi direct ophthalmoscope simulator: an effective training tool for medical undergraduates. BMC Med Educ. 2024;24(1):783.
  • Samaranayake UMJE, Mathangasinghe Y, Samaranayake UMNP, Wijayatunga M. Non-simulator-based techniques in teaching direct ophthalmoscopy for medical students: a systematic review. Int J Ophthalmol. 2020;13(8).
  • Saleh GM, Gauba V, Jain S, Gillespie BIA, O'Sullivan E, Ahmed J. Objective structured clinical examination in ophthalmology. Arch Ophthalmol. 2007;125(9):1235–7.
  • Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta: KKI; 2012.

Bagikan Artikel: