Clinical Science

Komplikasi Pemasangan Infus: Phlebitis dan Ekstravasasi

Komplikasi Pemasangan Infus: Phlebitis dan Ekstravasasi

Phlebitis dan ekstravasasi adalah dua komplikasi lokal yang paling sering terjadi pada pemasangan infus intravena perifer, dan keduanya bisa dicegah secara signifikan melalui teknik pemasangan yang benar, pemilihan ukuran kateter yang tepat, serta pemantauan berkala setelah infus terpasang. Phlebitis adalah inflamasi pada dinding vena yang ditandai dengan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan di sepanjang jalur vena, sementara ekstravasasi adalah keluarnya cairan infus ke jaringan di sekitar vena akibat kateter yang tidak terpasang dengan baik atau dinding vena yang bocor.

Komplikasi ini bukan kejadian langka. Studi prospektif AMOR-VENUS pada pasien kritis menemukan bahwa phlebitis terkait kateter intravena perifer terjadi pada 7,5% kateter dan 12,9% pasien, dengan laju insiden 3,3 kasus per 100 hari kateter. Di Indonesia, data dari beberapa rumah sakit menunjukkan angka kejadian phlebitis yang masih cukup tinggi dan berkaitan erat dengan prosedur pemasangan infus yang tidak sesuai standar serta perawatan infus pasca pemasangan yang kurang optimal.

Bagi mahasiswa FK yang sedang memasuki blok skill lab infus, memahami kedua komplikasi ini adalah bagian integral dari kompetensi prosedural: bukan hanya bisa memasang infus, tetapi memahami apa yang terjadi jika prosedur dilakukan dengan tidak benar dan bagaimana mendeteksi serta menanganinya.

 

Artikel ini membahas:

  • Definisi, jenis, dan mekanisme terjadinya phlebitis
  • Sistem penilaian VIP Score untuk grading phlebitis
  • Definisi ekstravasasi dan perbedaannya dengan infiltrasi
  • Penyebab, tanda klinis, dan penanganan masing-masing komplikasi
  • Strategi pencegahan yang dimulai dari teknik pemasangan

 

Apa Itu Phlebitis dan Bagaimana Mekanismenya Terjadi?

Phlebitis adalah inflamasi pada lapisan intima vena yang digunakan untuk terapi infus intravena. Phlebitis didefinisikan sebagai radang pada bagian intima vena yang disebabkan oleh iritasi kimia, mekanik, atau infeksi bakteri, yang terjadi setelah pemasangan infus pada intima vena antara 48 hingga 72 jam. Inflamasi ini melibatkan respons imun lokal yang menghasilkan tanda-tanda klasik inflamasi: nyeri, kemerahan (eritema), hangat saat diraba, dan pembengkakan di area insersi dan sepanjang jalur vena.

 

Phlebitis terbagi menjadi empat tipe berdasarkan penyebab utamanya, dan setiap tipe memerlukan pendekatan pencegahan yang berbeda:

  • Phlebitis mekanik terjadi akibat trauma fisik pada dinding vena yang disebabkan oleh kateter itu sendiri, baik saat insersi maupun saat indwelling. Faktor risikonya mencakup: ukuran kateter yang terlalu besar relatif terhadap diameter vena, material kateter yang kaku, insersi di atas area sendi yang bergerak aktif, dan fiksasi yang tidak stabil sehingga kateter bergerak di dalam vena.
  • Phlebitis kimiawi terjadi akibat iritasi kimiawi pada endotel vena dari cairan atau obat yang diberikan. Cairan dengan osmolaritas tinggi di atas 375 mOsm/L, pH sangat asam di bawah 5 atau sangat basa di atas 9, serta obat-obatan yang bersifat iritan terhadap vena adalah penyebab utama phlebitis kimiawi.
  • Phlebitis bakterial terjadi akibat kontaminasi mikroorganisme yang masuk ke dalam vena melalui pelanggaran teknik aseptik saat pemasangan, perawatan, atau akses berulang ke jalur infus. Ini adalah tipe yang paling berkaitan langsung dengan kualitas teknik pemasangan infus.
  • Phlebitis pasca infus adalah phlebitis yang muncul 24 hingga 96 jam setelah kateter dilepas. Sering kali tidak langsung terdeteksi karena tanda klinisnya muncul setelah pasien meninggalkan area perawatan.

 

Bagaimana Cara Menilai Derajat Phlebitis Menggunakan VIP Score?

Visual Infusion Phlebitis (VIP) Score adalah instrumen penilaian terstandar yang dikembangkan oleh Andrew Jackson dari Rotherham NHS Foundation untuk mendeteksi dini dan memonitor perkembangan phlebitis pada area insersi IV catheter. VIP Score menilai kondisi area insersi secara visual pada skala 0 hingga 5, di mana skor yang lebih tinggi menandakan derajat phlebitis yang lebih berat.

VIP Score 2 adalah ambang batas intervensi yang diakui secara klinis: saat skor 2 terdeteksi dan langsung ditangani, ini mencerminkan surveilans yang baik dan intervensi yang tepat waktu. Menunggu hingga skor 4 atau 5 sebelum bertindak menunjukkan pemantauan yang tidak adekuat.

Penilaian VIP Score sebaiknya dilakukan setiap kali shift perawatan dan hasilnya didokumentasikan. Di Indonesia, penggunaan VIP Score sudah mulai diterapkan di berbagai rumah sakit termasuk sebagai bagian dari indikator mutu pelayanan infus.

 

Apa Itu Ekstravasasi dan Apa Bedanya dengan Infiltrasi?

Ekstravasasi adalah keluarnya cairan atau obat intravena secara tidak sengaja ke jaringan di sekitar vena, khususnya apabila cairan yang keluar bersifat vesikan (merusak jaringan). Infiltrasi adalah istilah yang digunakan ketika cairan yang bocor ke jaringan bersifat non-vesikan atau tidak merusak jaringan. Perbedaan ini penting secara klinis karena ekstravasasi berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan yang serius, sementara infiltrasi biasanya bersifat sementara dan lebih mudah ditangani.

Ekstravasasi terjadi ketika kateter tidak terpasang dengan baik di dalam lumen vena, atau ketika dinding vena mengalami kebocoran akibat trauma insersi, phlebitis, atau fragilitas vena karena kondisi klinis pasien. Secara mekanik, cairan yang seharusnya masuk ke dalam vena justru keluar ke ruang interstisial di sekitar vena, menyebabkan akumulasi cairan di jaringan subkutan.

Tanda klinis ekstravasasi yang perlu dikenali: pembengkakan lokal di sekitar area insersi yang berkembang saat infus mengalir, nyeri atau sensasi terbakar di area insersi, kulit di area tersebut terasa tegang dan lebih dingin dari area sekitarnya, serta aliran infus yang melambat atau berhenti meskipun kateter tampak masih terpasang.

Perbedaan penting antara ekstravasasi dan phlebitis: phlebitis adalah reaksi inflamasi pada dinding vena dari dalam, sementara ekstravasasi adalah kebocoran cairan ke jaringan di luar vena. Keduanya bisa terjadi bersamaan, tetapi mekanisme dan penanganannya berbeda.

 

Apa Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Terjadinya Phlebitis?

Phlebitis adalah komplikasi multifaktorial yang dipengaruhi oleh faktor dari alat, teknik, pasien, dan cairan yang diberikan. Memahami faktor risiko ini membantu mahasiswa FK membuat keputusan klinis yang lebih tepat saat memilih ukuran kateter, lokasi insersi, dan jenis cairan.

  • Ukuran kateter yang tidak sesuai: Penggunaan kateter dengan gauge terlalu besar relatif terhadap ukuran vena adalah salah satu faktor risiko mekanik yang paling konsisten ditemukan. Kateter yang terlalu besar mengiritasi dinding vena secara konstan, meningkatkan risiko phlebitis mekanik. Prinsip "gunakan ukuran terkecil yang memadai untuk kebutuhan terapi" berlaku langsung di sini.
  • Lokasi insersi di area yang berisiko: Lokasi pemasangan infus pada area ekstremitas atas yang sering bergerak, terutama area siku dan fosa antekubiti, lebih berisiko mengalami phlebitis mekanik karena gerakan sendi yang berulang menyebabkan kateter bergerak di dalam vena. Dorsum manus lebih disarankan untuk terapi IV jangka menengah.
  • Durasi pemasangan: Lama pemasangan infus adalah faktor risiko independen yang signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa penggantian kateter yang tidak dilakukan secara rutin setelah 72 jam berisiko phlebitis sebesar 100%. Panduan klinis merekomendasikan penggantian lokasi insersi setiap 72 hingga 96 jam untuk meminimalkan risiko ini.
  • Teknik aseptik yang tidak optimal: Petugas yang melakukan pemasangan infus dengan memperhatikan kesterilan yang kurang baik meningkatkan risiko phlebitis bakterial secara signifikan. Ini adalah faktor yang sepenuhnya bisa dikendalikan melalui kepatuhan teknik aseptik.
  • Karakteristik cairan yang diberikan: Cairan dengan osmolaritas tinggi dan pH ekstrem lebih iritatif terhadap endotel vena. Misalnya, infus kalium klorida, dextrose hipertonik, dan berbagai antibiotik diketahui lebih berisiko menyebabkan phlebitis kimiawi dibandingkan cairan isotonik seperti NaCl 0,9%.

 

Bagaimana Perbandingan Phlebitis dan Ekstravasasi sebagai Komplikasi Infus?

Bagaimana Cara Mencegah Phlebitis dan Ekstravasasi sejak Proses Pemasangan?

Pencegahan phlebitis tidak hanya berfokus pada saat pemasangan infus saja, tetapi sesudahnya pemasangan infus harus dilindungi sepenuhnya dari terjadinya komplikasi. Ini berarti pencegahan adalah proses berkelanjutan, bukan tindakan satu kali saat prosedur berlangsung.

 

Pencegahan dimulai dari pemilihan ukuran kateter yang tepat.

Gunakan IV catheter dengan gauge terkecil yang masih memadai untuk kebutuhan terapi. Untuk terapi infus rutin pada pasien dewasa, 20G (pink) sudah lebih dari cukup. Tidak ada alasan menggunakan 16G atau 14G kecuali ada indikasi klinis yang membutuhkan laju aliran sangat tinggi seperti resusitasi cairan atau transfusi masif cepat.

Pemilihan lokasi insersi yang tepat.

Hindari insersi di area sendi yang aktif bergerak karena gerakan berulang menyebabkan kateter mengiritasi dinding vena secara mekanis. Dorsum manus dan lengan bawah lebih direkomendasikan untuk terapi IV jangka menengah dibandingkan fossa antekubiti.

Teknik aseptik yang konsisten.

Desinfeksi kulit yang benar, tidak menyentuh area yang sudah didesinfeksi, dan menjaga sterilitas komponen kritis adalah garis pertahanan utama terhadap phlebitis bakterial.

Fiksasi kateter yang stabil.

Kateter yang bergerak di dalam vena karena fiksasi yang longgar secara terus-menerus mengiritasi dinding vena. Plester atau ultrafix yang menutup area insersi dengan rapi dan mempertahankan posisi kateter adalah bagian dari pencegahan yang sering diremehkan.

Rotasi lokasi insersi setiap 72 hingga 96 jam.

Penggantian lokasi insersi secara rutin adalah rekomendasi standar klinis untuk meminimalkan akumulasi iritasi mekanik dan kimia pada satu lokasi vena.

Verifikasi posisi kateter sebelum dan selama infus.

Sebelum memulai infus, verifikasi bahwa kateter benar-benar berada di dalam lumen vena dengan memeriksa kelancaran aliran dan tidak adanya tanda ekstravasasi. Pemantauan berkala setelah infus berjalan adalah bagian dari standar perawatan yang mencegah ekstravasasi berkembang tanpa terdeteksi.

 

Untuk kebutuhan IV catheter berbagai ukuran, plester fiksasi, kassa steril, alcohol swab, dan seluruh perlengkapan pemasangan infus yang original dan berstandar klinis, konsultasikan dan pesan melalui WhatsApp Medtools: 

Whatsapp kami Disini

 

Bagaimana Penanganan Saat Phlebitis atau Ekstravasasi Terdeteksi?

 

Penanganan phlebitis:

Langkah pertama yang wajib dilakukan saat phlebitis terdeteksi pada VIP Score 2 ke atas adalah melepas kateter dari lokasi tersebut dan memindahkan akses IV ke ekstremitas lain jika memungkinkan. Kateter tidak boleh dibiarkan di lokasi yang sudah menunjukkan tanda phlebitis karena akan memperberat inflamasi.

Setelah kateter dilepas, tindakan kompres hangat di area yang meradang dapat membantu mengurangi nyeri dan mempercepat resolusi inflamasi lokal. Pada phlebitis derajat 3 ke atas atau phlebitis bakterial yang dicurigai, evaluasi klinis lebih lanjut diperlukan termasuk pertimbangan kultur jika ada tanda infeksi sistemik.

 

Penanganan ekstravasasi:

Langkah pertama saat ekstravasasi terdeteksi adalah menghentikan infus segera dan melepas kateter. Jangan melanjutkan infus meskipun hanya untuk mencoba "membilas" karena ini justru akan memperburuk ekstravasasi.

Setelah kateter dilepas, elevasi ekstremitas yang terkena untuk membantu reabsorpsi cairan yang sudah bocor ke jaringan. Dokumentasikan ukuran area pembengkakan, jenis cairan yang bocor, dan waktu kejadian. Jika cairan yang bocor adalah vesikan (kemoterapi, kontras, vasopressor), eskalasi segera ke dokter penanggung jawab diperlukan karena risiko nekrosis jaringan yang serius.

 

Kesimpulan

Phlebitis dan ekstravasasi adalah dua komplikasi pemasangan infus yang paling sering terjadi namun sebagian besar bisa dicegah melalui teknik yang benar. Phlebitis adalah inflamasi pada dinding vena yang dinilai menggunakan VIP Score, dengan VIP Score 2 sebagai ambang batas intervensi yang diterima secara klinis. Ekstravasasi adalah keluarnya cairan ke jaringan sekitar vena yang bisa menyebabkan kerusakan jaringan serius terutama pada cairan vesikan. Pencegahan dimulai dari pemilihan ukuran kateter yang tepat, teknik aseptik yang konsisten, fiksasi yang stabil, rotasi lokasi insersi setiap 72 jam, dan pemantauan berkala setelah infus terpasang. Memahami kedua komplikasi ini sejak skill lab adalah bagian dari pembentukan kompetensi klinis yang tidak bisa dipisahkan dari kemampuan teknis memasang infus itu sendiri.

Untuk kebutuhan IV catheter berbagai ukuran, infus set, plester fiksasi, alcohol swab, kassa steril, dan seluruh perlengkapan pemasangan infus yang original dan berstandar klinis, hubungi Medtools melalui WhatsApp: 

Whatsapp kami Disini

 

FAQ

 

Apa perbedaan phlebitis dan ekstravasasi pada pemasangan infus?

Phlebitis adalah inflamasi pada dinding vena akibat iritasi mekanik, kimiawi, atau infeksi, ditandai dengan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan sepanjang jalur vena. Ekstravasasi adalah keluarnya cairan infus ke jaringan sekitar vena akibat kateter yang tidak terpasang dengan benar, ditandai dengan pembengkakan lokal di area insersi dan kulit yang terasa lebih dingin.

Apa itu VIP Score dalam konteks infus?

VIP (Visual Infusion Phlebitis) Score adalah instrumen penilaian terstandar untuk mendeteksi dan memonitor phlebitis pada skala 0 hingga 5. Skor 0 berarti tidak ada tanda phlebitis, skor 2 adalah ambang batas intervensi (kateter harus diganti lokasi), dan skor 5 menandakan tromboflebitis lanjut yang membutuhkan tatalaksana segera.

Berapa jam setelah pemasangan phlebitis bisa terjadi?

Phlebitis umumnya muncul antara 48 hingga 72 jam setelah pemasangan infus, meskipun phlebitis kimiawi bisa terjadi lebih cepat tergantung karakteristik cairan yang diberikan. Phlebitis pasca infus bisa muncul hingga 96 jam setelah kateter dilepas.

Apa yang harus dilakukan pertama kali saat ekstravasasi terdeteksi?

Hentikan infus segera dan lepas kateter. Jangan melanjutkan infus meskipun sesaat. Setelah kateter dilepas, elevasi ekstremitas untuk membantu reabsorpsi cairan, dokumentasikan ukuran pembengkakan dan jenis cairan yang bocor, dan eskalasi ke dokter jika cairan yang bocor bersifat vesikan.

Bagaimana cara mencegah phlebitis dari teknik pemasangan infus?

Pencegahan phlebitis dimulai dari memilih ukuran IV catheter terkecil yang memadai untuk terapi, memilih lokasi insersi yang tepat jauh dari sendi aktif, menerapkan teknik aseptik yang konsisten, melakukan fiksasi kateter yang stabil, mengganti lokasi insersi setiap 72 hingga 96 jam, dan memantau area insersi secara berkala menggunakan VIP Score.

 

Daftar Pustaka

  • Benaya A, Schwartz Y, Kory R, Yinnon AM, Weiss Y. Relative incidence of phlebitis associated with peripheral intravenous catheters in the lower versus upper extremities. Eur J Clin Microbiol Infect Dis. 2015;34(5):913–6.
  • Takashima M, Ray-Barruel G, Ullman A, et al. Occurrence and incidence rate of peripheral intravascular catheter-related phlebitis and complications in critically ill patients: a prospective cohort study (AMOR-VENUS study). Crit Care. 2020;24(1):615.
  • Jackson A. Infection control: a battle in vein infusion phlebitis. Nurs Times. 1998;94(4):68–71.
  • Prayitno NCA. Hubungan persepsi perawat tentang pencegahan phlebitis dengan prosedur pemasangan infus. The Indonesian Journal of Infectious Diseases. 2015;2(1).
  • Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Standar Prosedur Operasional Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI; 2021.
  • World Health Organization. Guidelines for the Prevention of Peripheral Intravenous Catheter-Related Infections. Geneva: WHO; 2024.
  • Centers for Disease Control and Prevention. Guidelines for the Prevention of Intravascular Catheter-Related Infections. Atlanta: CDC; 2011.
  • Sensing Technologies for Extravasation Detection: A Review. Sensors. 2023;23(5):2413.
  • Wayunah W, Saefulloh M. Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian phlebitis di RSUD Indramayu. Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia. 2016;2(1):31–42.

Bagikan Artikel: